KANAAL

Parit atau terusan buatan sejak penjajah Belanda, banyak dijumpai di wilayah Batavia. Kanaal digunakan dalam pembangunan kota pada masa J.P Coen yang ditekankan pada blok-blok yang dikelilingi oleh kanaal yang berfungsi sebagai polder. Hal ini merupakan persamaan dengan kota-kota yang ada di Belanda, antara lain Amsterdam. Menurut Valentijn, Kota Batavia memiliki 16 buah kanaal. Keenam belas kanaal tersebut secara keseluruhan diperlihatkan pada peta van der Parra.

Pada zaman dahulu kanaal berfungsi sebagai pembatas dan pembagi Kota Batavia menjadi beberapa blok, baik yang membujur atau melintang. Bentuk Kota Batavia sangat ditentukan oleh keberadaan kanaal ini. Pola penataan jaringan jalan pada umurnnya ditata paralel di kiri kanan parit yang serba lurus dan saling berpotongan satu sama lain sehingga membentuk sudut siku-siku berpola papan catur. Kelima buah kanaal, yaitu parit Buaya (Kaaimanagracht), parit Harimau (Tijgersgracht), Kali Besar, parit Jonker atau Roa Malaka, dan parit Badak (Rhinocerosgracht) membagi kota dengan arah yang sama (utara selatan). Parit-parit (dan jalan-jalan) yang melintang memotongnya menurut garis lurus, membagi lajur-Iajur menjadi sejumlah besar persegi empat panjang, menyebabkan denah Kota Jakarta tidak begitu indah bahkan terlihat kaku. Parit (dan jalan) pertama yang melintang adalah parit Singa Betina (Leeuweningracht), membentang dari gerbang Rotterdam di kota bagian timur, melewati jembatan tengah (middelburg) kemudian di kota bagian barat melalui jalan Utrecht sampai ke pintu gerbang yang namanya sama. Kemudian yang kedua adalah parit Amsterdam (Amsterdamgracht) di kota bagian timur dan parit Melayu (Melayugracht) di kota bagian barat. Keduanya dipertemukan di atas Kali Besar (Ciliwung) oleh sebuah jembatan. Di samping itu terdapat dua buah parit yang mengapit Kasteel Batavia, yaitu parit luar (buitengracht) dan parit dalam (binnengracht).

Pembangunan kota yang dikelilingi kanaal ternyata tak sesuai untuk Batavia. Aliran air di kanaal terhambat dan tidak lancar mengalir ke laut. Hal ini menyebabkan genangan di beberapa bagian kota sehingga tidak layak lagi bagi pemukiman yang pertumbuhan penduduknya terus rneningkat. Dari genangan air di kanaal-kanaal itu, akhirnya timbul berbagai macam penyakit yang membuat Batavia dijuluki sebagai 'Kuburan orang Belanda' karena tingginya tingkat kematian yang terjadi.