Kampung Makasar

Kampung tua yang terdapat di Jakarta, sejak tahun 1686 dijadikan tempat pemukiman orang-orang Makasar, dibawah pimpinan Kapten Daeng Matara. Kawasan yang dulu termasuk Kampung Makasar dewasa ini meliputi wilayah kelurahan Makasar dan sebagian dan wilayah Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur. Disebut Kampung Makasar, karena mereka adalah bekas tawanan perang yang dibawa ke Batavia setelah kerajaan Gowa, dibawah Sultan Hasanuddin tunduk kepada Kompeni yang sepenuhnya dibantu oleh Kerajaan Bone dan Soppeng (Colenbrander 1925, (II):168).

Pada awalnya mereka di Batavia diperlakukan sebagai budak, kemudian dijadikan pasukan bantuan, dan dilibatkan dalam berbagai peperangan yang dilakukan oleh Kompeni. Pada tahun 1673 mereka ditempatkan di sebelah utara Amanusgracht, yang kemudian dikenal dengan sebutan Kampung Baru. Mungkin merasa bukan bidangnya, tanah di Kampung Makasar yang diperuntukkan bagi mereka itu tidak mereka garap sendiri melainkan disewakan kepada pihak ketiga, akhirnya jatuh ke tangan Frederik Willem Preyer.

Salah satu puteri Daeng Matara menjadi isteri Pangeran Purbaya dan Banten yang memiliki beberapa rumah dan ternak di Condet, yang terletak sebelah barat Kampung Makasar. Perlu dikemukakan, bahwa pada tahun 1810 pasukan orang-orang Makasar oleh Daendels secara administrasi digabungkan dengan pasukan orang-orang Bugis. Pada awal abad kedua puluh, menjadi milik keluarga Rollinsorn, yaitu ketika Entong Gendut memimpin segerombolan orang-orang berkerumunan di depan Villa Nova, rumah Lady Rollinson, pemilik tanah partikelir Cililitan Besar.