KAMPUNG GUSTI

Nama kampung di sekitar Masjid Angke. Dinamakan Kampung Gusti, karena dahulu saat berkembangnya wilayah Ommelanden, wilayah di sebelah barat Benteng Angke tersebut menjadi tempat Kapten Gusti Ktut Badudu dan Bali dan pasukannya. Di kampung ini terdapat makam Pangeran Wijayakusuma, penasehat Pangeran Jayawikarta, tepatnya di Jl. Angke. Kompi-Kompi Bali sering ikut berperang di India, Persia dan Indonesia Timur. Setelah Perang Banten (1682-1683) Ida Gde Baba(n)dam bekas "komandan orang Bali" diberi tanah Kedung Badak, karena ia telah menyediakan tujuh ratus tentara Bali. Pada tahun 1687 terdapat tiga kompi Bali. Namun, gerombolan budak-budak Bali yang melarikan diri, untuk waktu yang lama mengancam keamanan daerah di sekitar Batavia. Di bawah pimpinan Suropati bertahun-tahun lamanya mereka melawan VOC di seluruh Jawa.

Untung Suropati semula dijual dan Bali ke Batavia sebagai budak. Putra majikannya Knol menyuruh memenjarakannya. Tetapi ia berhasil meloloskan diri dari penjara di Balai Kota. Lalu, ia membentuk gerombolan bekas budak di wilayah di luar Batavia. Tujuh ribu orang bawahannya tinggal dalam suatu desa orang Bali di sekitar Karawang. Mereka sangat mengganggu VOC, yang akhirnya berhasil membujuk Suropati, supaya bekerjasama dengannya sebagai letnan tentara. Akan Kampung tetapi, karen Suropati dihina oleh orang Belanda yang berpangkat lebih rendah dan diancam olehnya, maka ia membelot dan mencerai-beraikan patroli VOC.