Kampung Gedong

Dewasa ini kawasan Kampung Gedong menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Tengah, termasuk wilayah Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur. Sebutan Kampung Gedong bagi kawasan tersebut, karena di sana berdiri sebuah gedung peristirahatan (landhuis) tuan tanah, pemilik tanah partikelir Tanjoeng Oost (Tanjung Timur). Gedung beserta halamannya yang sangat luas, oleh perniliknya dahulu diberi nama Groeneveld, yang berarti lapangan hijau, sesuai dengan panorama sekelilingnya yang hijau royo-royo. Dan gedung itu sampai tempat yang sekarang menjadi perempatan Pasar Rebo, Jl. Raya Bogor, terbentang jalan yang dahulu kanan-kirinya ditanami pahon asem (Tamarindus indica), menambah keasrian pemandangan sekitarnya.

Tuan tanah pertama dan kawasan itu adalah Pieter van de Velde, asal Amersfoort, yang pada pertengahan abad ke-18 berhasil memupuk kekayaan, berkat berbagai kedudukannya yang selalu menguntungkan. Setelah peristiwa pemberontakan Cina pada tahun 1740, dia berhasil menguasai tanah-tanah Kapten Ni Hu Kong, yang terletak di selatan Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) sebelah timur Sungai Ciliwung. Kemudian ditambah dengan tanah-tanah lainnya yang dibelinya sekitar tahun 1750, maka terbentuklah Tanah Partikelir Tanjoeng Oost. Di situ ia membangun gedung peristirahatan. Van de Velde meninggal tidak lama setelah gedung tersebut selesai dibangun. Pemilik kedua adalah Adrian Jubels. Setelah ia meninggal pada tahun 1763, Tanah Tanjoeng Oost dibeli oleh Jacobus Johanoes Craan, yang terkenal dengan seleranya yang tinggi. Pemilik baru itu mendandani gedung peristirahatannya dengan dekorasi berlanggam Lodewijk xv, ditambah dengan hiasan-hiasan yang bersuasana Cina. Sampai terbakar pada tahun 1985, sebagian dan ukiran-ukiran penghias gedung itu masih dapat disaksikan.

Setelah Craan meninggal, Tanjoeng Oost dibeli oleh menantunya Willem Vincent Helvetius van Riemsdijk, putra Gubernur Jenderal Jeremies van Riemsdijk (1775-1777). Sampai pecahnya PD Kedua, gedung Graeneveld dikuasai turun-temurun oleh para ahli warisnya, keturunan Vincent Helvetius van Riernsdijk.

Willem Vincent Helvetius sendiri sejak muda sudah menduduki jabatan yang menguntungkan, antara lain pada usia 17 tahun sudah menjabat sebagai administratif P. Onrust, jabatan yang menjadi incaran banyak orang, karena konon sangat "basah", banyak memberikan kesempatan memupuk kekayaan. Kedudukan ayahnya sebagai Gubernur Jenderal dimanfaatkannya dengan sangat baik, sehingga kekayaannya makin berkembang. Pada tahun sembilan puluhan abad ke-18, tanah-tanah miliknya tersebar antara lain di Tanah Abang, Cibinong, Cimanggis, Ciampea, Cibungbulang, Sadeng dan dengan sendirinya Tandjoeng Oost.