Kalender Betawi

Sistem kalender yang hampir sarna dengan sistem kalender Islam terutama dalam menggunakan lunar system, sistem yang berdasarkan peredaran bulan. Namun terdapat perbedaan dalam hal menentukan kapan terjadinya pergantian hari. Orang Betawi dan orang Jawa, menganggap itu terjadi ketika matahari mulai condong ke Barat (sekitar waktu ashar) sedangkan sistem kalender Islam pergantian hari itu terjadi ketika matahari tergelincir di ufuk barat (sekitar Maghrib). Di Betawi sampai akhir abad ke-19, jam tidak lazim digunakan. Pembagian waktu, arah, dan hitungan, sebagai berikut:

Pukul 05.00 - 10. 00 : Pagi
Pukul 10.00 - 12.00: Siang
Pukul 12.00 - 13.00: Tengari bolong
Pukul 13. 00 - 14. 00 : Tengari bengkok
Pukul 15.00 - 18.00: Sore
Pukul 18.00 - 19.00: Peteng
Pukul 19.00 - 23.00: Malem
Pukul 23. 00 - 24.00 : Tenge malem
Pukul 24. 00 - 03.00 : Tenge malem bute
Pukul 03.00 - 05.00 : Gelap bute

Secara umum pembagian waktu di wilayah budaya Betawi Pinggir/Udik hanya dikenal dua waktu pembagian seperti tertera dalam bagan di bawah, tetapi orang Pinggir juga membagi waktu berdasarkan waktu-waktu shalat.

Wayah tet =Waktu burung titet berkicau
Wayah dur =Waktu tidur

Untuk penanggalan/almanak, tidak lazim digunakan orang Betawi. Sehari-hari orang Betawi mengatakan rebo depan, atau rebo atunya lagi. Atau, kemis nyang liwat, atau kemis sebelomnya. Apabila hendak menunjukkan hari yang dimaksudkan, akan menggunakan telunjuknya untuk menghitung. Misalnya hendak mengatakan minggu depan, maka telunjuknya menghitung mulai dari hari dimana perjanjian diucapkan. Jari bukan saja dipergunakan menghitung atau mengacu pada suatu hari tertentu, tetapi juga mengandung isyarat. Almenak (almanak) baru muncul pada periode modern. Pemakaian penanggalan populer di kalangan Betawi baru pada permulaan abad ini.

Di Betawi juga dikenal nama bulan, hari, dan mata angin. Adapun nama bulan dalam satu tahun yang dikenal, yaitu: Sura, Sapar, Mulud, Siri/Sili Mulur (Siri berasal dari kata sri aslinya Sri Mulud), Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Rowah, Puasa, Sawal, Apit, Haji. Kemudian urutan dan nama hari dalam seminggu, yaitu: Minggu/Dominggu, Senayan/Senen, Selasa, Rebo, Kemis, Jumahat, dan Saptu. Minggu berasal dari nama hari ibadat orang Portugis yang disebut Santo Dominggu. Sedangkan Senayan adalah nama hari kedua dalam bahasa Melayu lama.

Arah angin meliputi:
1. Be(la) Kulon : barat
2. Be(la) (W)etan : timur
3. Be(la) llir : arah ke kota
4. Be(la) Udik : arah ke desa

Khusus nama tempat (misal: Tanjung Timur) dan nama angin (misal: angin Barat) digunakan barat dan timur, tidak kulon dan wetan. Istilah utara dan selatan tidak dikenal/ dipakai baik untuk nama tempat maupun ucapan sehari-hari. Cara menghitungnya adalah sebagai berikut:
1. = atu'/hatu
2. = duwa
3. = tiga'
4. = ampat/ 'mpat
5. = lima'

6. = anem
7. = tuju
8. = lapan
9. = sembilan
10. = sepulu

Untuk menghitung cepat: tu-wa-ga-patma- nem-ju-pan-lan-lu(h). Kemudian Ngi-tung Barang Jualan: (disenandungkan) atu-atu menjadi dua, dua-dua menjadi tiga, tiga-tiga (ata) tiga menjadilah ampat, dst. Dalam permainan kin, bandar mempunyai kata-kata sandi untuk bilangan 1-90. Bilangan sandi seperti 22, 23, 44 sid 88 dikatakan sebagai dua kawin sid delapan kawin. Tapi, 22 juga dapat disebut bebek/soang kawin, dan 44 adalah kursi kawin. Bilangan puluhan mulai 10 s/d 90 disebut dengan didahului kata "run", misalnya 20 menjadi run duapulu. Angka 20-an, yaitu 21 dibaca bebek/soang membawa tungket, 71 dibaca kakek-kakek membawa tungket, 74 kakek-kakek membawa bangku, 79 kakek-kakek dipatil sembilang. Angka 5 orang gendut pake pici, 51 dibaca lima satu atau lima membawa tungket, 50 dibaca run limapulu, 55 dibaca lima kawin. Angka 6 dibaca anem atau perempuan bunting, 63 perempuan bunting lagi ketawa. Khusus angka 69 mempunyai julukan yungka'-yungki' alias jungkat-jungkit (terbolak-balik). Angka 8 disebut kacamata, tapi 81 diucapkan delapan membawa tungket. Persis seperti 9 yang dibaca sembilang, tapi 91 adalah sembilan membawa tungket.

Cara pengucapan angka 7 dalam permainan kin agak unik. 7 diucapkan secara sengau tu'yuu. Angka 77 terkadang diucapkan tuju kawin, terkadang tu 'yuu-tu 'yuu. Itu tergantung dengan mood sang bandar. Jadi, pada dasarnya angka-angka yang disandikan itu mempunyai pengertian pokok yaitu:

o =(ko)song
1. =tungktet/penggebuk
2. =bebek/soang
3. =ketawa
4. = kursi/bangku
5. =orang gendut pake pici
6. =perempuan bunting
7. =orang tua/kakek-kakek
8. =kacamata
9. = (ikan) sembilang

Angka sial adalah 12, karena itu disebut "cilaka dua belas", tambahan lagi biji domino yang tidak disukai adalah dobel anem/bagal jagung yang jumlahnya 12. Angka mujur adalah 9. Hari yang dianggap baik dan membawa kemujuran adalah Rebo dan Saptu. Hari yang dianggap baik dan membawa kemujuran dan mungkin juga membawa sial adalah Selasa. Malam dan hari yang dianggap mulia adalah (malem) Jumahat dan ari Jumahat.