KALAPA, PELABUHAN

Pelabuhan Kerajaan Sunda yang letaknya sangat strategis karena berada di dalam teluk. Menurut catatan paling kuno yang dibuat oleh Chaou Ku-fei (dalam kitab Ling wai tai ta yang ditulis tahun 1178), pelabuhan ini dalamnya 60 kaki kira-kira 20 meter. Sampai abad ke-12 pelabuhan ini tidak terlalu aman untuk kegiatan perniagaan karena gangguan bajak laut. Baru pada abad ke-14 Pelabuhan Kalapa mulai berfungsi, ketika Kerajaan Sunda membangun ibukota baru di Pakuan dengan mendirikan istana terdiri dari 5 unit bangunan yang berjajar, sehingga dinamakan Pajajaran. Letaknya yang sangat strategis menjadikan Pelabuhan Kalapa paling diminati bagi Pajajaran dibanding 5 pelabuhan lainnya, seperti Pontang, Banten, Tangerang, Karawang, dan Cimanuk.

Adapun menurut Tome Pires (Portugis) dalam Suma Oriental (1512-1515) Pelabuhan Kelapa merupakan pelabuhan yang paling megah dan paling baik diantara pelabuhan lainnya. Pelabuhan ini sangat ramai dikunjungi para pedagang dari pelbagai tempat, seperti Sumatera, Kalimantan, Malaka, Makassar, Jawa-Madura, dan pedagang asing dari Timur Tengah dan Cina. Pelabuhan dikelola dengan baik oleh seorang syah bandar. Menurut catatan Tome Pires dan naskah Sikshakanda, Pelabuhan Kalapa mencapai puncak kejayaannya pada masa Sri Baduga Maharaja (prabu Siliwangi). Bertahan hingga periode penggantinya yaitu puteranya yang bernama Surawisesa (memerintah sejak 1521 M). Kemudian pada tahun 1513 pelabuhan ini lebih dikenal dengan nama Sunda Kelapa dan orang Portugis menyebutnya Cumda Clapa.