Kai-ba Li-dai Shji

Sejarah kronik masyarakat Cina tentang Jakarta, yang merupakan kronologi berbagai generasi yang membangun Batavia. Disusun dalam bahasa Tionghoa klasik pada akhir abad ke-18, sekurang-kurangnya sebelum 1820-an di Jakarta oleh orang yang sudah tidak dikenal. Naskah asli bergaya Cina, dan bukan tiruan sejarah Belanda. Nama orang dan tempat sering dicatat menurut dialek Rokkien, walaupun ada beberapa teks salinan yang sedikit berbeda. Naskah tertua telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, dibuat misionaris Inggris WH Medhurst dari London Missionary Society dan diterbitkan tahun 1840. Naskah asli masih disimpan kapten-kapten Cina sampai masa pendudukan Jepang. Cerita yang berlangsung antara tahun 1610-1793, berdasarkan catatan sekretaris "Kapten Cina". Salinan dalam bahasa Tionghoa (dari Sukabumi; 1869) diterbitkan pada tahun 1924 dan 1953; namun salinan asli hilang waktu pendudukan Jepang.

Kai Ba Lidai Shji menceritakan kejadian-kejadian umum dan administrasi disusun sesuai masa pemerintahan gubernur jenderal dan kapten Cina. Peristiwa awal abad ke-17 tak begitu dianggap penting, hingga tidak diangkat secara persis. Kai Ba Lidai Shji menggambarkan sejarah Jakarta yang hampir sama dengan babad-babad Jawa yang merupakan interpretasi sejarah seperti dipandang golongan atas kaum Tionghoa pada abad ke18. Sebagai contoh dalam cerita mengenai Gubernur-Jenderal Coen yang memperoleh legitimasi dengan merebut keraton Pangeran Jayawikarta dan mendapat pakaian kebesarannya, yang sesuai dengan cara pandang orang Cina tentang legitimasi sebuah kekuasaan.

Di dalam kronik ini dicatat tentang penolakan orang Cina terhadap kepemimpinan kaum wanita walau diakui ia bijaksana dan pandai, karena dianggap melanggar adat Cina dan menjungkir balikkan yin dan yang. Kronik 'Tionghoa tentang Batavia' memperlihatkan cara pikir yang lazim pada masa itu. Catatan tersebut juga melaporkan tentang Geger Pacinan dengan ilustrasi: "darah berceceran di mana-mana dan sungai-sungai penuh dengan mayat. Sebagian kota menjadi abu dan hampir lima ribu warganya, yang terkenal rajin dan ulet itu terbunuh".