IWAN TIRTA

Designer, penulis dan pecinta Batik. Lahir dengan nama Nusjirwan Tirtaamidjaja, di Blora, Jawa Tengah, 18 April 1935. Ia sebenarnya bukan orang Jawa ali, ayahnya Mr. Moh Husein Tirtaamidjaja, adalah anggota Mahkamah Agung (1950-1958) berasal dari Purwakarta (Jawa Barat), sedangkan ibunya berasal dari Lintau (Sumatera Barat). Belajar mengenai budaya Jawa ketika orangtuanya menjelma menjadi priyayi Jawa, saat ditugaskan di Jawa Tengah. Pendidikan formalnya adalah School of Oriental and African Study di London University dan Master of Law dari Yale University, AS dan pernah pula mendapat fellowship dari Yayasan Adlai Stevenson di PBB New York.

Sumbangannya yang paling nyata adalah keberhasilannya mentransformasikan batik dari selembar kain yang secara tradisional dililitkan di tubuh menjadi gaun indah memiliki nilai mode sebagaimana pakaian Barat. Ia berhasil memadukan keindahan Batik dengan kepraktisan pakaian ala Barat. Kepekaan seni dan pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan dari Timur, membuatnya mampu membawa Batik menjadi busana nasional yang tidak hanya diterima di dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Antara lain dibuktikannya dalam KIT APEC dimana hampir semua kepala negara yang hadir mengenakan batik hasil rancangannya.

Pertama kali belajar membatik di lingkungan Karton Mangkunegaran, dari RM Hardjonegoro dan Praptini Partadiningrat. Dan walaupun berpendidikan Barat, namun hingga kini tetap menjalani laku kejawen, puasa, meditasi, dll untuk mendapatkan ide berkreasi. Hasilnya motif Batik tidak hanya diaplikasikannya pada media kain saja, tetapi meluas pada seni kriya khususnya kerajinan perak dan perangkat makan porselen. Dua karya bukunya yang bersifat dokumentatif tentang Batik adalah Batik, Patterns and Motifs (1965) dan Batik, A Play of Light and Shades (1996).