IWAN SIMATUPANG

Seorang sastrawan dan wartawan, nama lengkapnya Iwan Martua Lokot Dongan Simatupang. Kelahiran Sibolga, 18 Januari 1928 dan meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970. Berpendidikan HBS di Medan, sekolah dokter di Surabaya (tidak selesai), belajar Antropologi dan Filsafat di Rijks-Universiteit Leiden dan Paris. Menikah dengan Corry keturunan Portugis dikaruniai 2 orang anak. Karena istrinya meninggal, beberapa tahun kemudian ia menikah lagi dengan Tanneke Burld dan dikaruniai seorang anak.

Sebagai pengarang ia mulai menulis sajak sejak 1952 di majalah Siasat dan Mimbar Indonesia. Sebagai wartawan ia pembantu majalah Gadjah Mada di Negeri Belanda, dan anggota redaksi Warta Harian. Selain menjadi redaktur Warta Harian, ia adalah pemimpin Teater "2000". Dengan aliran surealismenya, membawa perubahan dari sastra konvensional kepada sastra modern. Ketika tahun 1974 di Jakarta diadakan pertemuan sastrawan, Jakob Sumardjo mengadakan penelitian tentang sastrawan idola, dan ternyata Iwan Simatupang lah yang terpilih. Sastra modern Iwan sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokoh Perancis terutama Allan Robin Grillet.

Terkenal terutama melalui 2 novelnya Merahnya Merah (Gunung Agung, 1968) dan Ziarah (Djambatan, 1970). Dua novelnya yang lain Kering dan Koong, masing-masing terbit tahun 1972 dan 1975. Merahnya Merah mendapat hadiah Nasional 1970, dan Ziarah dalam terjemahan Inggris mendapat hadiah roman ASEAN terbaik 1977. Selain itu Iwan juga menulis drama dengan judul diantaranya; Perkutut, Sang Raja Mangkat, Bulan Bujukan Sangkar, Rt No.1/Rw No.1, Kaktus dan Kemerdekaan. Tahun 1970 drama Kaktus dan Kemerdekaan menjadi mata acara di TV dan pernah dipentaskan pula di TIM.

<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input><input id="jsProxy">