Ipe Ma'roef

Pelukis, nama lengkapnya Ismet Pasha Ma'aroef. Lahir  pada tanggal 11 November 1938 di Olo, Padang, Sumatra  Barat. Menikah dengan Djamilah, gadis yang disediakan oleh ibunya dan dikaruniai delapan orang anak. Tamat SMP tahun 1956 dan belajar melukis secara otodidak, sebelum bergabung dengan Seniman Indonesia Muda (SIM) di bawah pimpinan Sudjojono. SIM memberikan semacam kursus melukis, kemudian belajar di ASRI Yogyakarta atas anjuran Affandi. Karena tidak sanggup membayar uang berguru, kemudian bertualang ke Bali, mencoba hidup sendiri, dan memperdalam seni lukis dengan banyak berpraktek. Ia pernah kuliah di ITB Bandung di Jurusan Seni Rupa, sambil bekerja sebagai disainer keramik.

Karya lukisannya yang bergaris lembut, halus, tapi penuh gerak dan memiliki kekuatan dalam menggaris. Pada tanggal 28 Mei sampai 2 Juni 1980 Ipe mengadakan pameranlukisan di Balai Budaya bersama karya-karya Sumartono. Karya-karyanya itu tetap menunjukkan kekuatan atau kekhasan yakni kelincahan menggores, melecut-lecut garis tipis di dalam warna-warnanya yang ceria. Manifestasi Ipe yang digelarnya sebagian besar terbuat dari pastel, disamping yang cat minyak dan bakaran korek api. Pastel sebuah medium yang dianggap memilikibanyak kemungkinan untuk digarap semaunya. Perasaan geram, kesal, senang dan sebagainya bisa dituruti oleh medium itu.

Belakangan ia lebih dikenal sebagai ilustrator free lance di majalah Kawanku, Femina, Gadis, dan Pustaka Jaya. Sketsanya sangat kuat, realistis dan anatomis. Pada tahun 1961 ia menjadi ilustrator majalah Si Kuncung, pindah ke biro iklan Intervista sebagai disainer. Di situ ia tidak bertahan lama lalu ia ke Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pembuat poster. Ipe dikenal sebagai pembuat sketsa yang cekatan. Pada tahun 50-an, karena tak mempunyai peralatan untuk melukis berwarna, ia banyak membuat sketsa dengan pensil tentang apa saja (pasar, orang, jalan, rumah, pemandangan), kapan saja, ketika ia berjalan-jalan naik kereta api atau kemana saja hasilnya, satu kemahiran menangkap bentuk dan suasana yang dituangkan ke dalam garis-garis. Karya-karya inilah yang sekarang justru dianggap sangat berharga sebagai bahan dokumentasi sejarah.