INDISCH, KEBUDAYAAN

Digunakan untuk menyebut perpaduan antara kebudayaan Indonesia asli dengan Eropa, ditambah unsur-unsur Cina dan Arab, pada abad 18-19. Kebudayaan yang kemudian menjadi gaya hidup golongan atas, dipengaruhi cara hidup, sikap aristokratis dan hak-hak istimewa golongan ningrat Indonesia yang berbaur dengan sejumlah penemuan kebendaan, teknologi, dan mode masyarakat Eropa. Gaya hidup Indisch (bereorak Hindia) disebut sebagai lawan dari gaya hidup Eropa.

Kebudayaan Indiseh tercermin pada gaya hidup, gaya bangunan serta cara pandang yang bernuansa kehidupan Indonesia dan Eropa. Istilah ini juga dipakai untuk menyebut orang-orang Eropa peranakan dan digunakan untuk gejala-gejala dan ungkapan-ungkapan kebudayaan yang terdiri dari perpaduan antara kedua unsur tersebut, karena akhirnya unsur-unsur kebudayan Indonesia menyusup dalam tata hidup dan peradaban mereka. Kebudayaan campuran ini terutama didukung oleh golongan berkuasa yang biasanya terdiri dari orang-orang Belanda, yang karena lamanya tinggal di Indonesia atau karena perkawinannya dengan seorang wanita pribumi menjadi indisch.

Gaya hidup serba santai termasuk salah satu ciri budaya ini. Mereka mengenal siesta atau tidur siang yang merupakan penyesuaian diri dengan keadaan iklim tropis. Di dalam kebudayaan Indisch dikenal bantal guling, yang oleh orang Inggris diejek sebagai dutch wife, istri Belanda. Terdapat kebiasaan di kalangan orang Kompeni, terutama dalam hal kebiasaan mandi. Mandi bagi orang kebanyakan adalah sebuah kenikmatan, apalagi tinggal di Jakarta yang panas. Namun bagi Kompeni hal itu merupakan keterpaksaan, maklum di negerinya yang dingin mandi merupakan hal yang jarang dilakukan. Kompeni bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak mandi. Hanya kaum wanita Belanda yang berani mandi. Hal di atas menyebabkan pernah dikeluarkan peraturan khusus untuk serdadu-serdadu Kompeni untuk mandi setiap delapan atau sepuluh hari sekali.

Di kalangan orang Belanda zaman itu, ada yang pro mandi dan ada pula yang kontra. Menurut mereka yang terbiasa mandi akan merasa tidak nyaman kalau tidak mandi. Hal ini menurut seorang penulis Belanda tahun 1753, saat itu mereka masih mempergunakan istilah wassen (mencuci) untuk mandi, bukan baden. Orang-orang yang malas mandi mendapat angin segar dari seorang dokter bernama Keuehenius yang pada tahun 1804 menyatakan mandi tidak perlu, bahkan tidak baik untuk kesehatan. Rupanya ilmu kedokteran pada masa itu belum bisa membuktikan bahwa kesehatan ada hubungannya dengan kebersihan tubuh yang diperoleh setelah mandi.