Imam Bonjol, Tuanku

Pahlawan nasional, bernama asli Muhammad Sahab. Lahir di Tanjung Bunga, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, pada tahun 1772. Setelah belajar agama pada beberapa orang nulama di Sumatera Barat, ia menjadi guru agama di Bonjol. Dari sini ia menyebarkan paham Paderi di Lembah Alahan Panjang bahkan sampai ke Tapanuli Selatan. Sebagai tokoh Paderi, ia cukup disegani. Pada tahun 1821 Belanda dengan bantuan kaum adat mulai memerangi kaum Paderi untuk mengusai Sumatera Barat. Imam Bonjol memimpin pasukan Paderi untuk menghadapi Belanda. Karena serangan-serangan yang dilancarkan cukup kuat, Belanda tepaksa mengadakan Perjanjian Masang tahun 1824 dan mengakui Tuanku Imam Bonjol sebagai penguasa daerah Alahan Panjang.

Perjanjian itu kemudian dilanggar oleh Belanda dan perang berkobar kembali. Setelah Perang Diponegoro (1825-1830) berakhir, Belanda mengerahkan kekuatan yang besar untuk menaklukkan seluruh daerah Sumatera Barat. Sebagian demi sebagian daerah tesebut jatuh ke tangan Belanda. Pada bulan September 1832 Bonjol diduduki Belanda, tetapi tiga bulan kemudian direbut Paderi kembali. Belanda menyerang Bonjol dari tiga jurusan, tetapi gagal. Sesudah itu, Belanda mengumumkan Plakat Panjang yang berisi ajakan untuk berdamai, tapi Imam Bonjol curiga terhadap ajakan itu.

Pada tahun 1834 Belanda mengerahkan pasukan besar, Bonjol dikepung dengan ketal. Kedudukan Imam Bonjol bertambah sulit, tetapi tetap tidak mau berdamai dengan Belanda. Untuk menangkap Bonjol, tiga kali Belanda mengganti panglima perangnya dan bam setelah tiga tahun dikepung jatuh ke tangan Belanda. Tanggal 16 Agustus 1837 ia diundang ke Palupuh untuk berunding. Tiba di tempat itu, ia langsung ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat, kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotan dekat Manado. Di tempat terakhir itu, ia meninggal dunia tangga 18 November 1864 dan dimakamkan di sana. Di Jakarta, namanya diabadikan di poros utarna Menteng, yang menghubungkan Jl. Diponegoro dengan Bundaran HI.