I GUSTI NGURAH RAI

Pahlawan nasional, lahir di Carangsari, Bali, 9 Januari 1917. Selulus MULO (setingkat SMP) di Malang, mengikuti pendidikan militer pada Sekolah Kadet Militer di Gianyar Bali, selanjutnya menempuh pendidikan Corps Opleiding voor Reserve Officieren di Magelang. Setelah lulus diangkat jadi Letnan Dua dan bertugas pada Corps Prayodha Bali. Sesudah Indonesia merdeka, membentuk TKR Sunda Kecil dan menjadi komandannya. Untuk menerima petunjuk dari Markas Besar TKR, ia berangkat ke Yogyakarta. Pada bulan Maret 1946 kembali ke Bali dengan rombongan ALRI yang tergabung dalam Operasi Lintas Laut Banyuwangi-Bali. Waktu itu P. Bali sudah dikuasai Belanda, yang mendaratkan pasukannya bulan Februari 1946. TKRSunda Keeil terpecah-pecah menjadi kesatuan kecil dan tersebar di tempat-tempat yang berjauhan tanpa ada kesatuan komando.

Selama beberapa bulan, ia terpaksa bekerja keras menyatukan kembali kekuatan dan lalu menyusun rencana untuk melawan Belanda. Serangan pertama dilancarkan terhadap markas pasukan Belanda di Tabanan. Dalam serangan itu pasukan Polisi Belanda yang terdiri atas orang Indonesia menyerah dan menggabungkan diri. Belanda menjadi gempar dan berusaha meneari pusat kedudukan pasukan Ngurah Rai yang disebut Ciung Wanara. Bala bantuan didatangkan dari Lombok.

Tanggal 20 November 1946, dengan kekuatan besar, Belanda melancarkan serangan terhadap kedudukan Ngurah Rai di desa Marga. Pasukan Ciung Wanara berhasil memukul mundur pasukan musuh. Sesudah itu Belanda mendatangkan bantuan dan mengerahkan pesawat terbang melancarkan serangan udara, dan membuat pasukannya terkepung. Saat itulah, Ngurah Rai memutuskan medan perang terbuka. Dalam istilah Bali disebut perintah puputan, artinya bertempur sampai habis-habisan. Ia gugur beserta seluruh anggota pasukan dalam pertempuran itu. Pertempuran itu terkenal dengan nama Puputan Margarana. Jenazahnya dimakamkan di desa Marga. Di Jakarta, namanya diabadikan sebagai nama jalan di daerah sepanjang Klender-Bekasi, Jakarta Timur.