HUSSEIN DJAJADININGRAT

Ilmuwan, arkeolog dan budayawan. Lahir di Kramatwatu Serang, 8 Desember 1886 dan meninggal di Jakarta, 12 November 1960. Nama lengkapnya Pangeran Ario Husein Jayadiningrat, anak R. Bagus Jayawinata, wedana dan bupati Serang, yang berpandangan maju. Pelopor dunia keilmuan Indonesia, mencapai gelar Doktor dalam bidang bahasa dan kebudayaan Indonesia di Universitas Leiden (1913) dengan disertasi Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten yang cum laude dengan promotor Prof. Dr. Snouck Hurgronye. Disertasi itu membuka jalan bagi penelitian dan penulisan historiografi Indonesia sehingga iajuga dianggap sebagai "bapak metodologi penelitian sejarah Indonesia". Dialah orang Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar Doktor. Juga dikenal sebagai ahli keislaman yang sangat terkemuka pada masanya. Guru besar pertama orang Indonesia di perguruan tinggi.

Tamat HBS tahun 1899; atas anjuran Snouck Hurgronye melanjutkan belajar ke Universitas Kerajaan di Leiden setelah menempuh ujian masuk bahasa Latin dan Yunani Kuno. Mengikuti kuliah selama lima tahun (1905-1910). Tulisannya Critische overzicht van de geschiedenis van het Soeltanaat van Aceh (1913), memperoleh medali emas dalam lomba mengarang sejarah Aceh berdasarkan sumber naskah Indonesia/Melayu di Universitas Laiden. Selama satu tahun berada di Aceh untuk belajar bahasa Aceh dalam rangka penyiapan kamus Aceh; karya itu diselesaikan di Jakarta dengan bantuan Teuku Mohammad Nurdin, H. Abu Bakar Aceh, dan Dr. Hazeu. Tahun 1919 mendirikan Java Institut dan menjadi redaktur majalah Djawa yang diterbitkan lembaga itu bersama Raden Ngabahi Purbacaraka sejak 1921. Kemudian menerbitkan juga majalah Pusaka Sunda.

Tahun 1924 diangkat menjadi guru besar pada Reschtchoogeschool di Jakarta untuk mata kuliah Hukum Islam, bahasa-bahasa Jawa, Melayu dan Sunda. Tahun 1935 diangkat menjadi anggota Dewan Hindia. Bertahun-tahun menjadi konservator naskah pada Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, menjadi anggota direksi dan sejak 1936 menjadi ketua lembaga itu. Tahun 1940 menjadi Direktur Pengajaran Agama. Zaman Jepang menjadi Kepala Departemen Urusan Agama, kemudian Chua Sangiin Pusat. Tahun 1948 diangkat menjadi Menteri Pengajaran, Kesenian dan Ilmu Pengetahuan; 1952 menjadi gurubesar Fakultas Sastra Universitas Indonesia; 1957 menjadi pemimpin umum Lembaga Bahasa dan Budaya, merangkap anggota komisi istilah pada LBB. Karya ilmiahnya, antara lain Islam in Indonesia (dalam Kenneth D. Morgan, Islam the Straight Path, 1958), Apa Artinya Islam, Hari Lahimya Djajakarta.

Ia adalah tokoh yang pertama kali menetapkan tahun 1527 sebagai tahun kelahiran Jayakarta dalam disertasi berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten, yang dipertahankannya tahun 1913 di Universitas Leiden, Belanda. Ia yang terkenal sebagai sarjana Islamologi bertaraf internasional tidak bisa menerima teori Prof Sukanto yang terkenal sebagai sarjana hukum adat dan juga terkenal sampai ke luar batas tanah air. Menurutnya hari lahir Jakarta jatuh pada tanggal 1 Juni 1527.