Hinterland

Pemukiman yang terletak di bagian dalam Jakarta berupa pedesaan pertanian kebun (agricultural-rural). Secara harfiah hinterland  berarti "dalam". Hinterland merupakan pemukiman asli yang dihuni oleh orang-orang Sunda, Jawa, dan Betawi. Sebagian besar wilayah dalam sedang mengalami proses transformasi besar-besaran. Berbagai fungsi kota mulai dibangun seperti jalan arteri, perumahan, dan lain-lain.

Pemukiman "asli" berdasarkan etnis ini sekitar tahun 1840-an disebut "kampung", berasal dari istilah campound. Istilah kampung (Inlandsche Gemeenten) yang menunjuk pada pemukiman asli, digunakan untuk membedakan dengan istilah "kota" untuk pemukiman Belanda (Bebouwde Kom). Sejak saat itu dikenal istilah Kampung Melayu, Kampung Bali,dan sebagainya Inlandsche Gemeenten mempunyai otonomi untuk mengatur pembangunan daerahnya. Ada 3 tipologi kampung, yaitu (1) kampung kota, berdasarkan pengelompokan etnis. Terletak di dekat pusat-pusat kegiatan kota yang mempunyai tingkat kepadatan yang tinggi. Berkembang setelah Belanda menguasai Jakarta; (2) kampung pinggiran, berada di daerah pinggiran kota tetapi termasuk ke dalam batas wilayah kota. Tingkat kepadatan antara rendah dan sedang. walaupun ada juga yang tinggi. Berdasarkan pengelompokan etnis berkembang setelah Belanda menguasai Jakarta; (3) kampung pedesaan, kebanyakan berada di luar batas wilayah kota, kepadatan penduduk rendah dan bertumpu pada pertanian dan perkebunan. Karena sudah ada sebelum Belanda datang maka karakter Betawinya lebih kuat, misalnya di Condet.

Di daerah hinterland, rumah-rumah tradisional Betawi bisa ditemukan di Condet, Kebun Jeruk, Ciputat, Sukabumi Ilir, dan beberapa wilayah lain. Biasanya rumah dibangun dengan pola yang terpencar, di tengah-tengah kebun buah atau bidang-bidang lahan yang kering. Pada perkampungan tradisional Betawi di daerah hinterland pemilikan lahan telah bersifat individual tetapi pembatas kepemilikan lahan cukup dengan menanam pohon yang mudah tumbuh, awet, dan bukan jenis yang menghasilkan buah-buahan untuk menghindari sengketa. Di pemukiman tradisional Betawi di daerah hinterland juga telah muncul proses pemadatan kepemilikan tanah. Hal ini terjadi karena ada kebiasaan orang tua untuk memberikan bagian dari rumahnya kepada anak yang belum mampu membuat rumah.