Hendra Gunawan

Pelukis. Lahir 11 Juni 1918, di Bandung Jawa Barat, meninggal di Bali 1983. Ayahnya bernama Raden Prawiranegara dan ibunya bernama Raden Odah Tejaningsih. Sejak masih di SD telah tekun belajar sendiri mengambar segala macam yang ada di sekitarnya seperti buah-buahan, bunga, wayang (golek dan kulit) serta bintang film. Bahkan ketika duduk di kelas 7 HIS, ia sanggup melukis pemandangan alam. Ia mulai serius belajar melukis setamat SMP Pasundan. Mula-mula pada pelukis Wahdi Sumanta, Abdullah Suriosubroto (ayah Basuki Abdullah). Kemudian bertemu dan berkenalan dengan Affandi, Sudarso, dan Barli. Mereka lalu membentuk kelompok "Lima serangkai". Di rumah tempat tinggal Affandi mereka mengadakan latihan melukis bersama dengan tekun dan mendalam.

Pada tahun 1938 Hendra Gunawan belajar membuat patung secara otodidak. Tahun 1948 sempat belajar selama 3 bulan di Percetakan A.C. Nix Bandung dan juga membuat ilustrasi buku De Bousren Oorlogkarya Dr. Douwes Dekker yang naskahnya diselundupkan dari Afrika Selatan. Selama zaman Jepang, aktif membimbing para pemuda yang berminat kepada seni lukis dan seni patung, di samping aktif mengorganisir kegiatan seni di dalam Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) di bawah pimpinan Tiga Serangkai: Soekarno, Moh. Hatta dan K.H. Mas Mansyur. Melalui kegiatan ini Hendra Gunawan dan kawan-kawannya banyak melukis di berbagai pelosok termasuk di tempat-tempat terlarang seperti Pasar Ikan, Tanjung Priok dan Pelabuhan Cirebon. Setelah proklamasi kemerdekaan Hendra Gunawan membuat poster-poster perjuangan dan konsep-konsepnya dikirim oleh Angkatan Pemuda Indonesia dari kantor pusat Jl. Menteng Raya 31 Jakarta (kini gedung Joeang). Pada tahun 1945 itu juga dia mendirikan "Pelukis Front" bersama Barli, Abedy, Sudjana Kerton Kustiwa Suparto dan Turkandi mereka aktif melukis pertempuran langsung di front terdepan di samping membuat produksi perjuangan untuk seluruh Jawa Barat.

Tahun 1946, ia pertama kali menyelenggarakan pameran tunggal dan menampilkan karya lukisan revolusinya di Gedung Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Jl. Malioboro, Yogyakarta. Pameran ini disponsori dan dibuka oleh Soekarno, merupakan pameran lukisan pertama kali sejak berdirinya pemerintah RI. Tahun 1947 bersama Affandi, Sudarso, Kusnadi, Trubus, Sutioso, dan lain-lainnya mendirikan organisasi "Pelukis Rakyat". Tahun 1950 membuat Patung Jenderal Sudirman, sebuah patung batu pertama sesudah Prambanan. Dalam tahun sama bersama Affandi, S. Sudjojono, Jayeng Asmoro, Indro Sugondo, Surono, Abdul Katamsi Kusnadi Sindu Suarno, Setioso, Sri Murton dan lain-lain mendirikan Akademi Seni Rupa Indonesia(ASRI)di Yogyakarta. Tahun 1951, 1953 membuat Patung Tugu Muda di Semarang dan Patung Erlangga di Surabaya. Pameran tunggal ke-2 dilakukannya di Hotel Des Indes Jakarta 1957 di antaranya memamerkan lukisan-lukisan revolusi dalam ukuran besar-besar: seperti Penganten Pasar Cibodas, Pertempuran di Klenteng, Jenderal Sudirman dan lain-lain.

Hendra Gunawan mengaku dipengaruhi S. Sudjojono dalam kegigihan perjuangan seni, dan Affandi dalam kesungguhan dan sistematika kerja keras sehari-hari. Ia sendiri disibukkan oleh kegiatan melukis pasar-pasar dan lukisan dinding "sangkok" di Klenteng Bandung terutama dalam gerak dan pelukisan suasana, diakuinya pengaruh dari relief Candi Borobudur, Prambanan, ukiran klasik, batik, wayang kulit, wayang golek serta motif hiasan seni kriya berbagai daerah di Indonesia. Ia dikenal suka melukis dengan ukuran besar, ia pernah melukis "Pangeran Cornel" dan "Arjuna menyusui anaknya", keduanya berukuran 400 x 200 cm.