Harijadi Sumodidjojo

Lahir 25 Juli 1921 di Ketawang, Kutoardjo, Jawa Tengah. Harijadi mendapat pendidikan di Jakarta untuk karir bisnis. Ia adalah seorang yang mendidik diri sendiri, seniman yang mulai melukis pada tahun 1941 dan telah mendapatkan saat yang sukar untuk memantapkan diri. Antara 1940 dan 1941 ia dan Suromo bekerja sebagai seniman komersial bagi sebuah firma di Jakarta. Selama PD II ia menjadi anggota Tentara Sekutu, turut berperang di Malaya (Malaysia) dan Sumatera, sebagai seorang meteorologist.

Bergabung dengan Brigade 17 dari TNI selama revolusi, bertempur di dekat Yogyakarta ketika Belanda menduduki kota itu tahun 1949. Tahun 1965, dikirim Bung Karno belajar mengenai museum di Mexico. Ia terkenal sebagai pelukis mural dan menjadi anggota Organisacion International de Muralistos del Mundo di Amerika Selatan. Salah satu karyanya yang fenomenal dan tak pernah selesai, adalah lukisan mural di tembok yang dilakukan di salah satu ruang Museum Sejarah Jakarta. Menceritakan suasana kota Jakarta Tempo Doeloe, yang sedianya akan dikerjakan berdua dengan S. Soedjojono. Karya itu memperlihatkan kota Batavia pada kurun tahun 1880-1920 dari utara ke selatan dari kanan ke kiri. Dari sisi paling kanan ada Sunda Kelapa, Kota, Glodok, Monas, Lapangan banteng, Matraman dan Senen pada sisi paling kiri. Senen pada waktu itu sudah batas kota Batavia paling selatan.

Pelukisan kota merupakan latar belakang untuk beberapa pemandangan dari hidup harian di zaman itu. Misalnya, ada pasar tradisional, trem kuda bersama penumpang, penari dan pencopet yang sedang mencuri dompet dari pelaut yang mabuk. Untuk itu Harijadi melakukan penelitian suasana periode tersebut dengan sangat baik, karena semua rincian cocok, misalnya pakaian dan seragam orang Belanda. Terdapat pula representasi orang Betawi dan semua kelompok etnis dari seluruh Indonesia dan kelompok bule di kota Batavia. Ia menikah dua kali dan mempunyai enam orang anak.