Harian Indonesia

Satu-satunya surat kabar di Jakarta, bahkan Indonesia di masa Orde Baru, yang terbit dalam bahasa dan aksara Cina atas izin pemerintah. Penerbitan pers serupa ini dimungkinkan oleh Undang-undang Nomor 11 tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers. Bab IV, pasal 10 butir (1) undang-undang itu menyatakan: "Jika dianggap perlu, Pemerintah Pusat dapat menerbitkan sebanyak-banyaknya satu harian dalam bahasa Indonesia dan satu harian dalam tiap bahasa asing yang dianggap perlu." Sejak tahun 1972, surat kabar ini mempunyai edisi daerah yang dicetak di Medan. Tetapi ini bukan penerbitan terpisah dan berdiri sendiri, melainkan hanya perpanjangan dari edisi nasional. Harian Indonesia dari kantor pusatnya di Jakarta mengirimkan film negatif hasil pemotretan tata letak yang sudah selesai dibuat ke Medan untuk dicetak dan diedarkan di sana.

Harian Indonesia diterbitkan untuk memenuhi kebutuhan akan penerbangan bagi golongan penduduk keturunan Cina, terutama yang tidak dapat membaca tulisan berbahasa Indonesia. Walaupun demikian, separo luas halaman harian ini memuat berita dan tulisan dalam bahasa Indonesia, guna menumbuhkan apresiasi terhadap bahasa nasional Indonesia di kalangan pembaca yang berbahasa induk bahasa Cina.

Surat kabar ini dikelola oleh Yayasan Indonesia Press yang berdiri sejak 24 September 1966. Beberapa pejabat pemerintah pernah duduk dalam pimpinan harian ini, antara lain Harsono Reno Utomo dan T.W. Slamet, keduanya dari Departemen Pertahanan dan Keamanan (Hankam). Setelah beberapa kali terjadi pergantian pengurus, Harian Indonesia terakhir kali berada di bawah pemimpin umum Sukarno Hadi Wibowo, pemimpin umum harian Berita Buana, dan pemimpin redaksi W.D. Sukisman dari Hankam.