HAMKA

Sastrawan, budayawan dan ulama besar. Nama lengkapnya Haji Abdul Karim Amrullah, lahir di Tanah Sirah, Sungai Batang, tepi Danau Meninjau tanggal 16 Februari 1908 dan meninggal pada di Jakarta, 24 Juli 1981. Ayahnya, Dr. H. Abdul Karim Amrullah. Ia menikah dengan Siti Raham binti Endah Sutan dan dikarunai sepuluh orang anak dengan keluarga yang harmonis. Ia menempuh pendidikan di Madrasah Thawalib di tanah kelahirannya. Tahun 1924, hijrah ke Yogyakarta dan belajar pergerakan politik dari tokoh-tokoh Sarekat Islam antara lain HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Awal tahun 1950, bersama keluarga pindah dan menetap di Jakarta dan mengajar di beberapa perguruan tinggi.

Tahun 1956 menerima Dr. Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar (Mesir). Pernah menjadi guru agama di Padangpanjang dan Medan, kemudian memimpin majalah Pedoman Masyarakat Cema Islam, dan Panji Masyarakat, dan terakhir Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (1981). Menjadi Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah sampai akhir hayatnya dan menjadi anggota Istimewa di Konstituante mewakili Masyumi.

Tahun 1964-1966 Hamka hidup dalam tahanan di Sukabumi, Megamendung dan Jakarta karena fitnahan PKI sebagai plagiator dalam karyanya Tenggelamnya Kapal Van Der Wljck. Novel tersebut dianggap jiplakan karya pengarang Perancis Iphonse karr (1808-1890), S.ous les Tilleuls (1832), yang diterjemahkan Mutafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1924) ke bahasa Arab; tahun 1963 edisi Arab ini diindonesiakan A.S. Alatas dengan judul Magdalena.

Karyanya yang lain: DiBawah Lindungan Kaabah (n. 1938), Merantau ke Deli (n, 1938), Karena Fitnah (n, 1938), Tuan Direktur A(n, 1939), Keadilan Ilahi (n, 1941), Di Dalam Lembah Kehidupan (kc, 1941), Di Jemput Mamaknya (n, 1949), Menunggu Beduk Berbunyi (n, 1950), Kenang-Kenangan Hidup I-V (0, 1951-1952), Lembah Nikmat (n, 1959), Cemburu (n, 1961), Cermin Pengidupan (kc, 1962), Ayahku (b, 1967), dan lain-lain. Selain itu, ia juga banyak menulis buku yang bersifat keagamaan.