Hamid Jabbar

Sastrawan, lahir di Kota Gadang, Bukittinggi, Sumatra Barat 27 Juli 1949 dan meninggal di Jakarta 29 Mei 2004 saat membacakan puisinya. Salah seorang tokoh sastrawan Angkatan 70-an, yang terkenal dengan puisi panjangnya, berjudul Indonesiaku yang ditulisnya pada tahun 1978. Ia juga dikenal sebagai penyair yang peka terhadap nilai-nilai religius yang bernafaskan Islam. Seangkatan dengan penyair Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi WM, pada awal masa pertumbuhan kepenyairannya dikembangkan di Bandung. Ketiganya sering mangkal di Gang Masjid, Cicadas, di rumah pelukis Jeihan Sukmantoro.

Pada masa 1966, merupakan aktivis Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) Sukabumi dan Bandung. Pada saat itu, ia mulai berkarya, baik puisi, cerpen, novel maupun esai (1969). Karya-karyanya mulai disiarkan pada 1973. Koran lokal dan nasional, termasuk majalah sastra Harison dan Dewan Sastra (Kuala Lumpur) memuat sejumlah karya sastranya. Di Padang, ia aktif berteater bersama aktor Wisran Hadi dan Teater. Dalam jagat pers, pernah menjadi wartawan Indonesia Express (Bandung), Harian Singgalang (padang), dan Mingguan Pos Kota (Kualalumpur Malaysia). Ia juga sempat menjadi redaktur PN Balai Pustaka. Juga mantan mandor pada perkebunan teh di Sukabumi.

Sejumlah antologi sajaknya, di antaranya Paco-Paco (1974), Dua Warna (1975), Wajah Kita (1981), dan sajak lengkapnya: Super Hilang, Segerobak Sajak Hamid Jabbar (1998). Karya lainnya: Siapa Mau Jadi Raja (cerpen anak) , Raja Berak Menangis, Zikrullah, dan sejumlah naskah sinetron (Malin Kundang: Legenda Masa Lalu-Parodi Masa Kini dan WarTeg-Bes, Warga The Best). Ia juga mengeditori buku biografi Herlina, Pending Emas dan Bangkit dari Dunia Sakit.