GEDUNG KESENIAN JAKARTA (GKJ)

Gedung Kesenian Jakarta atau lebih dikenal dengan nama gedung GKJ terletak di Jl. Gedung Kesenian No. 1, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat 10710. Gedung yang awalnya bernama Stadtschouwburg ini dirancang oleh para perwira zeni VOC Belanda. Pembangunan gedung ini dimulai pada tanggal 6 Juli 1820 dan selesai pada tanggal 7 Desember 1821.

 

Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini sempat dijadikan sebagai markas tentara Jepang sebelum dikembalikan fungsinya sebagai gedung pertunjukan pada tahun 1943. Pasca kemerdekaan, gedung ini sempat digunakan oleh KNIP dan Universitas Indonesia untuk kegiatan fakultas ekonomi dan hukum. Selanjutnya pada periode 1957-1962 digunakan sebagai Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). Bangunan ini juga beberapa kali sempat dijadikan sebagai bioskop, yakni Bioskop Diana (1968) dan Bioskop City Theater (1969). Pada tahun 1984 barulah bangunan ini dikembalikan fungsinya seperti semula yakni sebagai gedung kesenian.

 

Bangunan ini mengalami pemugaran dan kemudian diaktifkan sebagai gedung seni pertunjukan pada 5 September 1987, dan dinamakan sebagai Gedung Kesenian Jakarta. GKJ sangat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan tempat pergelaran seni pertunjukkan yang sarna sekali berbeda dengan tempat pergelaran yang sudah ada. Perbedaan itu terutama dalam hal pemilihan materi pertunjukkan dan gaya penampilannya. Dalam hal ini, bila Taman Ismail Marzuki (TIM) dikhususkan untuk kesenian hasil pencarian baru dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menampilkan seni tradisional.

 

GKJ adalah tempat bagi pertunjukkan pilihan, yang tidak dapat menyajikan pementasan yang sifatnya entertainment, bentuk- bentuk pertunjukkan populer, yang walaupun penampilan kemasannya serba gemerlap, tetapi secara kualitatif tidak dapat berkesinambungan sebagai ekspresi artistik dan filosofi yang langsung sifatnya. Untuk pergelaran karya, naskah atau repertoar yang bersumber dari karya-karya asing atau produksi yang datang dari luar negeri, standar kualitas yang berlaku adalah sama. Untuk mementaskan sebuah karya para seniman juga harus mendapatkan dukungan awak panggung yang mampu memahami dan menguasai baik teknik maupun artistik.

 

GKJ merupakan tempat pergelaran yang dapat memenuhi standar pentas kesenian internasional. Untuk mendukung keberadaannya, banyak event seni diselenggarakan, baik insidental maupun rutin dalam bentuk festival. Dua yang paling monumental adalah Art Summit Indonesia, yang merupakan event tiga tahunan, yang telah diselenggarakan sejak 1995. Sebelumnya telah diselenggarakan Jakarta International Festival of the Performing Art yang diselenggarakan sejak tahun 1990.

 

Kedua festival tersebut diambil sebagai bentuk kepedulian GKJ kepada publik seni pertunjukan Jakarta sebagai kota metropolitan, yang membutuhkan forum komunikasi, arena dialog seni dan kebudayaan antar-bangsa secara artistik maupun intelektual. Peristiwa itu dianggap memberi peluang menciptakan momentum yang sarat makna, dan mengandung prestise masyarakat dan bangsa diatas panggung pergaulan dunia. Di samping kesempatan untuk membandingkan secara langsung karya para seniman kebanggaan Indonesia dengan karya seniman-seniman mancanegara.