Frans Van Lith, Sj

Seorang misionaris dan pendidik, berkebangsaan Belanda. Ia tiba di Semarang pada 1896, belajar bahasa dan adat-istiadat Jawa, lalu menetap di Muntilan sejak 1897 dan beberapa tahun lamanya dengan berbagai proyek percobaan berusaha mendalami sifat-sifat orang Jawa. Setelah itu ia yakin kerasulan harus di mulai dari golongan atas masyarakat Jawa dan melalui kebudayaan jawa sendiri. Waktu itu guru-guru masih menduduki tempat istimewa dl masyarakat tradisional, maka ia mengutamakan pendidikan golongan elit itu dan menekankan pentingnya pengetahuan bahasa jawa bagi para pastor. Dialah pastor pertama yang fasih berbahasa jawa. Ia memulai kompleks persekolahan Katolik di Muntilan dengan mendirikan Kweekschool (1904) untuk pendidikan guru bantu dan 1906 untuk guru-guru kepala.

Lulusan-lulusan ini di kemudian hari menjadi perintis penginjilan di berbagai tempat di seluruh di pulau jawa. Dua lulusan dari peringkat pertama (1911) minta masuk serikat Jesus dan diberi pendidikan khusus dengan dikirim ke Belanda. Pada 1904, ia membaptis 171 orang desa dari daerah Kalibawang di Sendangsono, yang masih berhubungan dengan pengikut Kyai Sadrach. Peristiwa ini dianggap sebagai momentum lahirnya gereja khusus suku Jawa, walaupun di beberapa tempat sudah terdapat jemaat kecil.

Berhadapan dengan pemerintah, ia termasuk pembela sekolah misi and zending(1916), memperjuangkan persamaan dengan sekolah negeri. Ia menganjurkan pengiriman mahasiswa-mahasiswa pribumi ke perguruan tinggi di negeri Belanda, supaya memperoleh pendidikan yang sarna mutunya dengan orang Belanda.Oleh karena itu, ia mengajukan supaya Serikat Jesus mendirikan AMS, yang terlaksana dengan didirikannya Kolese Kanisius di Jakarta tahun 1927.

Van Lith jadi anggota Onderwijsraat (Dewan Pendidikan, 1918) dan memperjuangkan pentingnya bahasa Jawa. Pada 1918 diangkat menjadi anggota Herzieningkatcommissie (Komisi Peninjauan) Kenegaraan Hindia Belanda. Ia menandatangani dua Nota minoritas, yang menuntut perwakilan mayoritas untuk orang pribumi dalam satu dewan. Ia menentang posisi mayoritas orang belanda dalam Volksraad, dengan alasan gereja katolik berusaha mengembangkan rakyat Jawa sepenuhnya. Orang katolik tidak berkepentingan dalam kolonialisme dan tak pernah ikut serta dalam VOC, bahkan dilarang beribadah dalam wilayahnya. Karena peryataannya itu, ia dituduh oleh duta besar Belanda di Vatikan dan dicap sebagai 'orang yang sangat berbahaya' dan 'kurang bijaksana'.

Dalam brosur 'De politiek van Nederlandten opzichte'(sebagai buku 1922) ia membela hak kemerdekaan orang Jawa. Brosur ini dianggap sebagai legitimasi perjuangan P. van Lith dan dikritik oleh banyak orang Belanda, bahkan beberapa tokoh Gereja, termasuk Vikiaris Apostolik van Velsen SJ. Tetapi, pimpinan Serikat Jesuit mendukungnya. Ia pernah dicalonkan Sarekat Islam Serang menjadi anggota Volksraad. Setelah memulihkan kesehatan di negeri Belanda (1920-1924), ia menetap di Semarang, mendirikan sekolah HIS dan mengajar di novisiat SJ di Yogyakarta sampai meninggal pada 1926. Romo F. van Lith dimakamkan di Muntilan, dan namanya kini banyak disematkan sebagai nama sekolah katolik di berbagai kota, termasuk Jakarta.