Francis

Nama keluarga Inggris yang pada pertengahan abad ke-19 sampai abad ke-20 cukup tersohor di Hindia. Pendiri keluarga ini, E. Francis, merupakan pejabat tinggi di pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Francis yang lain mencakup H.T. Francis seorang pendeta, J.H. Francis pemilik asrama dan sekolah piano serta G. Francis yang menerbitkan Tjerita Njai Dasima.

E. Francis, kakek G. Francis lahir pada tahun 1798 di Alape, Pantai Malabar India. Pada umur 17, sebagai perwira kedua Uurumudi) kapal "Union" dalam pelayaran ke Nieuw-Holland (Nova Hollandial/Ausralia), ia terdampar di Pulau Kelapa di selatan Jawa Barat. Dengan susah payah akhirnya berhasil mencapai Pantai Banten Selatan dengan pertolongan seorang Negro. Pada Mei 1815 bisa mencapai Kota Banten semasa Jawa dikuasai oleh Inggris. Laut kemudian ditinggalkan dan bekerja menjadi pegawai rendah pada kantor pemerintahan Inggris di Banten.

Setelah Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada Belanda, E. Francis mulai beralih kepada penguasa yang baru. Sebagai orang Inggris yang tidak disukai ia selalu dikirim ke daerah yang berbahaya namun selalu berhasil memberikan keuntungan bagi Belanda. Kariernya makin meningkat dengan menjadi Residen Rembang, Madiun, dan terakhir Direktur favasche Bank.

Karir gemilangnya diabadikan dalam memoarnya Herinneringen uit den Levensloop vaan Indisch Abtenaar van 1815-1851, Van Dorp, Batavia, I, 1856, 227 halaman, II, 1856, 333 halaman, III, 1860, 507 halaman. Sebuah karya besar yang menyangkut pengabdian pada Hindia Belanda juga catatan tentang politik, sosial, budaya, ekonomi, keuangan, dan militer semasa di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Jawa. Sebagai sumber informasi yang kaya namun jarang dimanfaatkan sampai sekarang. Karyanya yang lain mencakup kisah Belanda dalam menegakkan kekuasaan di Sumatera Barat, De Vestiging del' Nederlandel' tel' Westkust van Sumatra, 1856. Buah pikirannya yang terakhir ditulis waktu berumur 80 tahun dan merupakan pertanggung jawaban pada anak-anaknya, teman juga kenalannya Afscheidsgroten aan Kinderen, Vrieden en Bekenden, 's Graven-hage, 1878, 78 halaman. Sebuah rangkuman kisah tragis akhir hidup E. Francis, dipecat dengan hormat tanpa pensiun. Gugatannya pada Hindia Belanda dan pengaduannya pada Tweede Kamer Belanda sia-sia.

Sedangkan G. Francis adalah penulis TJerita Njai Dasima yang juga aktif dalam dunia pers. Berdasarkan keterangan lisan dari Tio Ie Soei pada 1963 Lentera/Bintang Timur pernah mengumumkan bahwa G. Francis lahir pada 1860 dan meninggal pada 1915. Pada tahun 1895, surat kabar Pembrita Betawi 6 Maret 1895 memuat syair Kalam Langit (nama samaran Na Tian Piet) yang menyatakan duka cita atas meninggalnya Francis (1895). Namun dapat dipastikan bukan G. Francis yang dimaksudkan karena pada tahun 1895 Njerita Djai Dasima belum diterbitkan. Kemungkinan Francis yang dimaksud berinisial G.P.W.F, penerbit buku tentang Napoleon Bonaparte (Batavia, 1891).

Aktifitas G. Francis dalam dunia pers mencakup sebagai redaktur mingguan Pengadilan (terbit: Bandung 1862-1898) yang dicetak oleh De Vries & Fabricus, dan menjadi redaktur Bintang Betawi menggantikan J. Kieffer yang naik menjadi pimpinan. Ketika surat kabar ini tutup pada tahun 1906, ia pindah ke Pantjaran Warta (terbit: Betawi 1909-1917).

Tulisan tangannya selain Njerita Njai Dasima (Kho Tjeng Bie & Co, Betawi 1896 cet.II 1930; pada tahun 1926 Druk F.G. Camoeni, Batavia mencetak ulang karya ini di Indonesia dengan difilmkan oleh Tan Bersaudara dan dimainkan oleh aktor Indonesia dan Indo Eropa (1929). Karena mendapat sukses besar, Tan memberanikan diri untuk mengembangkan cerita dalam Dasima II (1930). Versi baru Nyai Dasima difilmkan oleh Java Industrial Film (JIF) dengan pemain Moh. Mochtar, Hadidjah, S. Soekanti, dan Bissoe (1940). Selanjutnya Chitra Dewi Film Production memfilmkan Nyai Dasima dengan judul Samiun dan Dasima. Pemainnya antara lain Chitra Dewi, W.D. Mochtar, Sofia WD, Wahid Chan, dan Fifi Young.