EURO PEANEN

Sebutan untuk orang Eropa yang tinggal di Batavia, yang terdiri dari orang-orang Jerman, Swedia, Perancis, Inggris, Portugis, dan lain-lain. Orang Eropa ini mempunyai peranan yang dominan dan menempati puncak hirarki dalam kekuasaan dan membentuk kelompok yang paling kaya dan paling berbudaya. Orang Eropa yang tinggal di Batavia lebih senang dengan makanan dari tanah airnya seperti mentega, anggur dan berbagai jenis bir, kentang, saus, roti, kaviar(telur ikan), buah zaitun dalam kaleng, ikan salmon schoohoven yang dikirim ke Hindia Belanda berbentuk lemak domba dalam kaleng timah. Ini menunjukkan bahwa orang Eropa lebih makmur dan penghasilannya jauh di atas penduduk bumiputra yang kebanyakan miskin, kekurangan gizi dan pangan.

Kelompok orang-orang Inggris dikenal sebagai pedagang, pengusaha perkebunan di Pemanukan dan Tjiasem Lands dan memiliki kedudukan tertinggi di Batavia. Hal itu terjadi karena posisi kedudukan mereka di Eropa berada di kelas atas. Sikapnya lebih hormat kepada kaum bangsawan Indonesia dan anti perbudakan. Mereka memberi contoh mendirikan klab-klab khusus menurut garis etnik penduduk (yang sesuai dengan tradisi Inggris). Orang Perancis yang hidup di Batavia dikenal sebagai penyumbang konsepsi mode, keluwesan, dan gaya hidup tersendiri. Selain itu, banyak di antara mereka yang ahli dalam bahasa Melayu.

Orang-orang Jerman yang hidup di Batavia menambah unsur-unsur budaya masyarakat. Orang Jerman dikenal sebagai penyumbang dalam bidang ilmu, kesarjanaan, dan kehidupan budaya. Imigran Jerman berlimpah jumlahnya di Batavia. Karena Vereenidge Oost-Indische Compagnie (VOC) bersifat sangat intemasional, maka pegawai VOC berasal dari empat penjuru Eropa, termasuk Jerman. Banyak yang menjadi tentara, tetapi ada beberapa yang dipekerjakan sebagai tenaga ahli, misalnya ahli bedah, atau insinyur pertambangan. Pada masa pemerintahan Gubemur Jenderal van Imhoff, yang juga lahir di tepi Sungai Ems, para imigran Jerman dibangunkan Gereja Lutheran pertarna di Batavia.