Es

Penduduk Batavia menyaksikan dan merasai dinginnya es batu, ketika 16 November 1846 sebuah kapal dari Boston (Amerika) yang membawa es berlabuh di perairan Betawi. Tidak diketahui bagaimana awak kapal itu menjaga agar es itu tidak cair, karena kapal itu berangkat dari Boston 28 Juli 1846. Orang Amerika memang mencoba mengekspor es batu ke negara-negara berhawa panas. Tidak heran penjualan es batu dari Boston itu laris, walau es itu setiap pon dijual 10 sen (satu dubbeltje). Dan es batu sebanyak satu kapal itu habis 6 Februari tahun berikutnya, atau hanya dalam waktu sekitar 75 hari. Penjualan es itu sempat diiklankan dalam surat kabar, dikaitkan dengan perayaan malam Natal pada Kamis 24 Desember. "Sambil mendengarkan lagu-Iagu rohani di ruang Salon des Glaces di hotel de Provence, orang dapat menikmati rasa minuman es yang lain dari yang lain."

Tahun 1860 baru muncul iklan penemuan "mesin es" dan tahun 1870 pabrik es pertama beroperasi di Betawi, berlokasi di Prapatan di pinggir Ciliwung. Tidak diketahui kapan pabrik es di Petojo didirikan, namun sebagai pemasok utama es batu, pabrik es Petojo memang menduduki tempat penting dalam kehidupan kota Betawi. Dalam peta yang dibuat Topographisch Bureau tahun 1903, namanya dimasukkan dalam legenda bersama-sama kantor gubernemen lainnya, seperti kantor pos dan telegraf, kantor pekerjaan umum dan departemen angkatan laut.

Es krim yang telah dikenal di Amerika pada 1851, sampai awal abad ke-20 belum dinikmati penduduk Betawi. Tetapi pertengahan abad ke-19 di Molenvliet, di lapangan Kantor Baru (pasar milik gubernemen di Mangga Besar) berdiri warung es ("Yshuis") di mana para penduduk Betawi bisa menikmati minuman es. Perdagangan es di Batavia di abad ke-19 dianggap cukup menjanjikan dan biasanya dilakukan orang Cina. Kala itu di warung-warung Tionghoa ada khusus tempat menyimpan es balokan berukuran sekitar 2 X 3 meter.