EMIRIA SUNASSA

Seorang perempuan pelukis pertama di Indonesia yang paling aktif berpameran. Lahir Tanawangko (Kampung Tidore), Sulawesi Utara tahun 1894 dan meninggal di Lampung 7 April 1964. Aktif sebagai pelukis sejak pameran pertamanya diadakan oleh Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada 1940 di Toko Buku Kolf, memajang lukisan pertamanya, Telaga Warna. Pada 1941, ia menjadi peserta pameran perintis pelukis pribumi di Batavia Kunstkring, yang sangat bergengsi. Karyanya yang ikut dipamerkan adalah Pekuburan Dayak Pnihing, Orang-orang Papua, dan Kampung di Teluk Rumbolt. Pada zaman pendudukan Jepang, lukisannya, Pasar dan Angklung mendapat hadian "Saiko Sjikikan". Pada masa itu dikenal aktif sebagai sekretaris bagian sen lukis pada Keimin Bunka Shidosho. Desember 1943, Emiria menggelar pameran tunggalnya di Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Keaktifannya di dunia seni Jakarta berlangsung hingga memasuki masa kemerdekaan.

Emiria baru melukis serius setelah usianya diatas 40 tahun. Pada masa kanak-kanak, sebetulnya ia sudah gemar melukis. Namun, ayahnya keberatan Emiria kecil mengembangkan bakatnya. Sewaktu muda, hidupnya berpindah-pindah dan tak pernah tinggal lama di satu tempat. Pada usia 18 tahun, mengikuti pendidikan sebagai perawat di Rumah Sakit Cikini Jakarta. Dua tahun kemudian berangkat ke Eropa untuk menikah dengan seorang diplomat asing yang dikenalnya di Jakarta. Ia sangat gemar bepergian, terutama ke daerah terpencil dan pernah tinggal beberapa tahun dengan orang-orang yang sering digolongkan primitif, seperti orang Papua, Dayak dan Kubu. Katanya, ia mengagumi mereka karena jujur dan tidak terpengaruh oleh dunia modern yang diangap lebih beradab. Selain itu, Emiria mencintai hutan karena di sana ia bisa belajar tentang berbagai jenis racun dan berburu gajah.

Seperti rekan-rekannya di Persagi, karya Emiria lebih menonjolkan pantulan jiwa pelukisnya ketimbang memperhatikan teknik-teknik melukis. Ia mengabaikan aturan-aturan soal perpektif dan menggunakan warna dengan cara ekspresif. Banyak menggunakan warna coklat gelap, merah gelap, dan hitam, diimbangi dengan hijau dan kuning menyala seperti tampak dalam Orang Irian dengan Burung Cendrawasih.

Suatu hari sekitar tahun 1960, ia berkemas meninggalkan Jakarta, tempatnya selama lebih dari 20 tahun berkarya sebagai pelukis. Beberapa bulan sebelumnya, ia menggelar pameran berkelompok bersama Trisno Sumardjo, Oesman Effendi, dan Zaini di Taman Seni Rupa Merdeka, Kebayoran. Keputusannya meninggalkan Jakarta ternyata sekaligus mengakhiri kariernya sebagai pelukis. Sekitar 30 lukisan karyanya, kuda-kuda melukis, dan cat, ditinggalkan begitu saja di rumah sekaligus studionya di Jl. Cendana, Menteng, Jakarta. Kesan misterius yang mengiringi keperkepergiannya kadang digunakan sebagai alasan mengapa hanya sedikit orang yang mengenal pelukis wanita pertama Indonesia itu. Ada juga yang mengatakan Emiria kurang dikenal karena bukan tipe pelukis yang mengikuti arus dan kurang dekat dengan Soekarno hingga keberadaannya tak diakui. Sebagian yang lain lebih suka menganggapnya bukan termasuk pelukis yang berhasil, hanya pantas dianggap sebagai pelukis "hobby". Asumsi terakhir ini menjelaskan mengapa informasi tentang karyanya begitu sedikit. Sejak dirinya menghilang dari Jakarta, berangsur-angsur namanya ikut menghilang dari ingatan masyarakat seni rupa.