EDHIE SUNARSO

Pematung karya monumental. Lahir di Salatiga, 2 Juli 1933. Sejak usia tujuh bulan sudah harus berpisah dengan orangtuanya. Masa sekolah dasarnya, dihabiskan di kota kecil Pegaden, Pamanukan, Jawa Barat. Tahun 1946, di sela-sela kesibukannya belajar, ia bertugas menjadi kurir, penghubung antar pejuang kemerdekaan. Ia yang masih kencur kemudian bergabung dengan Divisi I Siliwangi yang bertugas sebagai pasukan sabotase terhadap gerak tentara NICA dan pengikutnya. Saat naasnya, ia tertangkap dalam kontak senjata di daerah pedalaman Cimalaya, lalu ditawan dan dipenjara selama 3 tahun. Selama dipenjara ia merupakan salah satu yang termuda di antara tawanan yang berjumlah 1.800 orang, sehingga disayangi banyak orang. Di dalam penjara, ia menekuni belajar menggambar wajah, dimulai dari membesarkan foto, yang kemudian justru membentuk jiwa kesenimannya.

Tahun 1949 ia bebas dan memutuskan mencari induk pasukan yang bermarkas di Yogyakarta. Setiba di sana ternyata induk pasukan Siliwangi sudah kembali ke Jawa Barat. Akhirnya ia mendaftarkan diri pada Kantor Urusan Demobilisasi dan mendapatkan bea siswa untuk belajar kembali. Kesempatan tersebut dimanfaatkan mendaftarkan di ASRI Yogyakarta. Dikarenakan tidak memenuhi syarat dan tahun pelajaran sudah berjalan 6 bulan, maka ia hanya diterima sebagai mahasiswa pendengar. Baru pada tahun kedua, diterima jadi mahasiswa biasa sejajar dengan teman lainnya dan lulus tahun 1955. Karena dianggap berbakat, ia bahkan mendapat Grant Scholarship dari UNESCO untuk melanjutkan studi di Rabindranath Tagore University, Shantiniketan, India selama 1955-1957.

Tahun 1959 ia dipanggil Bung Karno ke Jakarta untuk membuat patung Selamat Datang dalam rangka menyongsong ASEAN GAMES. Patung setinggi 7 m itu dibuat dari bahan perunggu cor. Mulanya ia menolak, namun diberi waktu berpikir lima hari. Setelah bermusyawarah dan mendapatkan dukungan serta bantuan dari rekan-rekannya (antara lain eks Brigade 17 dan eks-pegawai PJKA yang ahli mengecor), ia menghadap Bung Karno dan menyampaikan kesanggupannya. Patung selesai dikerjakan dalam jangka setahun. Kemudian menyusul patung Monumen Pembebasan Irian Barat, Patung Monumen Dirgantara setinggi 9 m, Patung Pejuang Tak Dikenal di Digul Irian Jaya serta patung monumental lainnya.

Penghargaan: 1953, menerima Penghargaan sebagai pemenang II Sayembara Seni Patung Dunia di London-Inggris. 1957, menerima medali emas untuk The Best Exhibit dalam All India Fine Art & Craft Exhibition. 1984 Menerima Penghargaan Seni dari Pemerintah RI untuk Karya Monumental. 1957, Pameran Tunggal di Calcuta dan Shantiniketan, India. 1957-78, dan sejak itu aktif pameran di berbagai negara; Perancis, Belanda, Belgia, India, Jepang, Rumania. Di Indonesia, hampir seluruh kota besar seperti di Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta ia pernah menggelar berbagai karyanya.