Edam, Pulau

Disebut juga Pulau Damar, salah satu pulau di dalam gugusan Kepulauan Seribu yang juga disebut sebagai Pulau Damar Besar. Orang Jakarta menyebutnya Pulau Monyet. Letaknya tak jauh dari Tanjung Priok. Di pulau ini berdiri tegak sebuah mercusuar yang disebut Vast Licht setinggi 65 meter. Mercusuar ini menurut catatan sejarah dibangun pada tahun 1879, atas izin Z.M. Willem II. Mercusuar tersebut terlihat dari jauh, bahkan dari jendela kapal terbang yang hendak mendarat di Bandar Udara Cengkareng. Pulau ini lama digunakan sebagai stasiun radar untuk memandu pesawat terbang yang menuju ke bekas Bandara Udara Kemayoran. Di pulau ini, Gubernur-Jenderal Camphuijs mendirikan sebuah rumah bagus yang bertingkat dua (1685). Koleksi binatang dan tanaman langka dalam kebun sekitar rumah peristirahatan itu menjadi terkenal, karena merupakan 'taman Jepang' terbesar di luar Jepang pada zaman itu. Camphuijs menanam pohon-pohon bonsai di antara batu-batu wadas, memasang jembatan-jembatan kecil dan air terjun yang disinari oleh lanteren batu gaya Jepang. Tamu-tamu dijamu dengan makanan dari dapur Jepang dan dipaksa makan dengan supit. Orang pernah menganggap Pulau Edam sebagai salah satu tempat paling menyenangkan di dunia (1882). Kini flora pulau ini masih sangat bervariasi. Karena Gubernur Jenderal van Riebeck tidak tertarik pada pulau Edam, maka pemerintah mengambil alih kembali pulau ini tahun 1705.

Sejak awal abad ke-18 didirikan bengkel pembuatan tambang dan penggergajian kayu di P. Edam, tempat para tawanan menjalani kerja paksa. Diantara tawanan itu terdapat seorang pangeran dari Palembang dan beberapa orang ningrat. Perlakuan kasar dan iklim buruk menyebabkan pemberontakan para tawanan, yang disusul dengan penindasan lebih kejam lagi. Pada 1715 tiga puluh budak Bali mengamuk. Serangan orang Bugis ditangkis pada tahun 1792, namun Inggris merusak semuanya pada awal abad ke-19. Pada awal abad itu juga perangkat wadah api yang menggunakan damar menjadi tanda pada kapal-kapal yang berlayar waktu malam. Kubu-kubu pengintai, yang dibangun di pantai semasa pendudukan Jepang, kini masih dapat dilihat.

Ke pulau ini pula Wali-Sultan Ratu Syarifa Fatimah dibuang oleh VOC, setelah diusir oleh kaum pemberontak dari Banten. Tidak lama sesudahnya, ia meninggal di sana (1751). Kuburannya tidak jauh dari mercusuar. Dan hingga sekarang Pulau Damar masih tetap dikunjungi orang-orang dari Banten untuk berziarah.