Dullah

Seorang seniman lukis Indonesia. Lahir di Solo, 1919 dan meninggal tahun 1996. Julukannya "Pelukis Revolusi", karena ia
banyak melukis peristiwa yang berkaitan dengan masa revolusi, ketika mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu ia juga dikenal sebagai seorang pelukis realis yang sanggup menggambarkan peristiwa-peristiwa penting perjuangan Indonesia. Ia belajar melukis pertama kali kepada maestro lukis Affandi dan S. Soedjojono. Namun ia tidak mengikuti gaya lukis kedua gurunya tersebut. Setelah itu ia membina sejumlah anak didik yang juga diarahkannya untuk merekam berbagai peristiwa revolusi di dalam karya lukis. Sang Pelukis Revolusi ini menyimpan kurang lebih 100 buah lukisan karya anak didiknya yang menggambarkan berbagai peristiwa semasa Yogyakarta menjadi ibu kota RI, masa pendudukan Belanda. Ia mengadakan pameran lukisan untuk pertama kalinya di Gedung Agung Yogyakarta; kemudian pameran kedua diselenggarakan di Jakarta, dan dibuka Wakil Presiden Adam Malik.

Dullah juga dijuluki sebagai Pelukis Istana, karena ia dekat dengan Presiden Soekarno. Selama 10 tahun (1950-1960) ia dipercaya untuk memelihara dan mengawasi benda-benda seni yang tersimpan di Istana Negara, sekaligus menjadi pelukis pribadi Bung Kamo. Ia juga dipercaya menyusun dua buah jilid buku koleksi lukisan Bung Karno pada tahun 1956; dan kemudian dua buah jilid lagi pada tahun 1959. Keempat buahjilid buku tersebut diterbitkan oleh Pusat Kesenian Rakyat di Beijing, Republik Rakyat China. Selain itu menjadi pengasuh Sanggar Pejeng yang bertempat di Puri bekas Istana kerajaan tertua di Bali. Sanggar ini berinduk di Solo, yaitu Himpunan Budaya Surakarta (HBS) yang berdiri tahun 1950, dan Dullah menjadi salah seorang pendirinya.