Dukun Beranak

Pada gilirannya lebih popular disebut dengan bidan. Di Batavia, pada masa kolonial pertama kali didirikan lembaga pendidikan khusus untuk dukun beranak yang disebut De eerste vrouwelijke verloskundigen oleh Dokter W Bosch pada pertengahan abad ke19. Semula sulit untuk memperoleh murid yang mau dididik menjadi dukun beranak, sehingga baru pada bulan Oktober 1853 lembaga itu menghasilkan lulusan pertama. Dan setelah para muridnya diberikan berbagai kemudahan, di antaranya beasiswa, pada akhir abad ke-19 lembaga itu bisa secara tetap meluluskan sejumlah dukun beranak. Untuk membantu lulusan pendidikan itu gubernemen telah memberikan bantuan keuangan untuk membeli peralatan, walau jumlahnya dinilai tidak memadai.

Lembaga pendidikan dukun beranak yang didirikan Dokter W Bosch itu tidak hanya terbuka bagi penduduk Betawi. Semua perempuan yang berasal dari berbagai pelosok Hindia Timur diberi kesempatan untuk mengikutinya. Profesi dukun beranak memang belum banyak dihargai orang. Selama ini setiap kelahiran bayi di desa-desa. Musik pengiring pertunjukannya disebut orkes Harmonium karena unsur bunyi alat musik harmonium sangat mendominasi. Alat musik Orkes Harmonium terdiri dari: Harmonium, gitar sampyan, biola, gendang, marakas dan tambur.

Perkembangan Dermuluk hanya terbatas di daerah Betawi tengah saja. Pada tahun 1930-an perkumpulan yang terkenal ini berada di Jembatan Lima pimpinan Abdul Manaf. Namun sekarang sudah tak ada. Sekitar tahun 1930-an puluhan jenis teater ini masih ditemui di Jakarta. Pertunjukan ini semacam komedi bangsawan dengan unsur-unsur nyanyian, tarian, dan cerita, juga lakon. Musik pengiring yang digunakan adalah orkes harmonium yang terdiri dari harmonium, gitar sampyan atau samyan (alat musik petik berdawai delapan), biola, gendang, dan tambur. Lakon yang dibawakan diambil dari Sahibul Hikayat seperti Akhmad Muhammaad, Indra Bangsawan, dan sebagainya. Dari Dermuluk ini kemudian berkembang Lenong Dines dan Tonil Samrah, namun penyebarannya terbatas di daerah kota saja.