Dominique W Berretty

Pendiri Kantor Berita Aneta (Alegemeen Nieuwsen Telegraaf Agentschap) di Jakarta. Ia adalah anak seorang wanita Jawa yang bersuamikan seorang guru berkebangsaan Italia dan lahir di Yogyakarta. Berhasil menggerakkan Direksi KPM, maskapai pelayaran di Hindia Belanda memerintahkan semua kapten kapalnya bila singgah di Singapura untuk membeli surat kabar terbitan sana. Berita yang penting supaya dikawatkan oleh agen KPM ke alamat Aneta di Jakarta. Dari sana berita-berita itu disebar ke semua surat kabar Belanda pelanggan Kantor Berita Aneta di Indonesia. Pada tahun 1919 Berretty mulai mengadakan pertukaran berita dengan berbagai kantor berita dunia, misalnya Reuter (Inggris), Trans-Ocean (Jerman), Havas (Perancis), Domei (Jepang), Stefani (Itali).

     Tiga tahun setelah berdiri, Aneta pindah ke gedung baru yang terletak berhadapan dengan Kantor Pos Besar Pasar Baru, Jakarta. Berretty kemudian berhasil memegang monopoli pemberitaan di Indonesia mengenai berita luar negeri. Kariernya terus menanjak; dia mendapat anugerah bintang penghargaan dari Kerajaan Belanda, Raja Thailand, Pemerintah Kamboja dan Italia. Ia juga dibenarkan menghadap Ratu Belanda, suatu hal yang sangat langka waktu itu. Ia bersikap keras terhadap orang yang mau menyainginya, atau orang yang tak mau tunduk kehendaknya. Di samping punya banyak kawan, baik dalam pemerintahan maupun di kalangan usaha, ia juga banyak mendapat musuh. Di antara pengusaha gula Belanda ada yang mendirikan surat kabar sendiri untuk memusuhinya. Di beberapa kota yang surat kabarnya tidak mau berlangganan Aneta, Berretty sengaja menerbitkan harian (dalam bahasa Belanda juga) untuk menandingi harian yang dianggapnya membangkang itu.

     Berretty juga berhasil menjual berita-beritanya kepada NIROM (Nederlands-Indische Radio Omroep Maatschappij) , maskapai penyiaran radio Hindia Belanda. Dengan demikian NIROM mampu menyiarkan berita-beritanya lebih cepat daripada surat kabar. Dengan menjual berita itu Berretty menjadi kaya raya dan berhasil membangun gedung kantomya yang tinggi di Pasar Baru dan Villa Isola di Bandung sebagai tempat peristirahatannya. Pembukaan Villa Isola diresmikan oleh pejabat tinggi pemerintah, Mr Kiewiet de Jonge. Villanya ini pernah dijadikan kantor oleh Gubernur Jenderal Tjarda beserta stafuya, setelah pecah PD II tahun 1942. Setelah kemerdekaan, villa tadi dipakai oleh PTPG, Perguruan Tinggi Pendidikan Guru yang kini berkembang menjadi IKIP.

     Beretty tewas dalam kecelakaan pesawat terbang Diver, 22 Desember 1974 di Timur Tengah. Waktu itu ia dalam perjalanan pulang dari Belanda ke Indonesia. Para penggantinya tidak mampu lagi mengembangkan Aneta, kecuali tetap memegang teguh The Great, karya palung Dolarosa Sinaga kebijakan yang pernah ditanamkannya, yaitu mewakili kepentingan modal Belanda dan bersikap reaksioner terhadap gerakan kebangsaan bangsa Indonesia.