Dolorosa Sinaga

Pematung wanita, lahir di Sibolga, Sumatera Utara tahun 1952. Berbeda dari harapan orang tuanya, ia tumbuh menjadi seorang seniman. Belajar seni patung di Institut Kesenian Jakarta, kemudian melanjutkan ke St. Martins School of Art, London, dan belajar teknik perunggu di Piero's Art Foundry Berkeley, USA. Ia sedikit dari perempuan pematung Indonesia yang tidak hanya berkarya dengan pokok kaum marjinal, tetapi turun ke lapangan untuk ikut memperbaiki apa yang termarjinalkan itu. Misalnya, dengan mendirikan Yayasan Tanak, untuk membantu dan mengembangkan pendidikan anak-anak terlantar, terlibat dalam "The National Commission of Human Rights for Women Crisis Center", dan mendirikan Media Kerja Budaya, menyelenggarakan diskusi budaya dan sesekali pertunjukan teater gratis.

     Dari sanalah kemudian mengalir karya-karya patungnya dengan figur yang ekspresif. Karya-karyanya merupakan monumen orang-orang biasa. Yakni, mereka yang terlempar dari modernitas, tersingkir atau disingkirkan, mereka yang tak letih berteriak meski teriakannya tidak benar-benar didengarkan. Sosok pada patung-patung Dolo umumnya berwajah anonim, representasi dan orang-orang kebanyakan yang kalah atau dikalahkan.

     Ia secara intensif belajar prinsip-prinsip anatomi di Eropa. Pengetahuan itu benar-benar mengubah pandangan seninya dan membuatnya meninggalkan seni patung abstrak yang semula ditempuhnya. Dalam figur bentuk, ia menemukan bahasa yang cocok untuk mengatakan segala kegundahannya tentang realitas sosial yang buruk, ketidakadilan, dan kekerasan terhadap perempuan. Meski demikian, tidak hanya kegelapan
dan pesimisme yang disodorkannya, namun ia juga menawarkan gelora, cahaya, dan rasa optimisme.