Dodol Betawi

Salah satu makanan atau tradisi ciri khas orang Betawi dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri Lebaran. Dodol Betawi dibuat dengan cara sambatan atau bantu membantu. Makanan yang dihidangkan pada perayaan Lebaran ini diolah dari tepung ketan, santan kelapa (dari kelapa yang sudah tua), dan gula jawa. Laki-Iaki bertugas mengupas kelapa dan mengaduk bubur tepung yang sudah mengental sampai masak dan berminyak. Sedangkan ibu-ibu yang menyiapkan bahan-bahan, seperti menumbuk beras ketan untuk membuat tepung. Memasak dodol bisa sampai seharian penuh. Dodol yang sudah masak dituang ke atas nampan atau tampah bambu dan dipipihkan agar cepat dingin supaya bisa dipotong-potong. Ada juga ibu-ibu yang membungkus dodol yang sudah dipotong dengan kertas berwarna-warni.

Disamping itu dodol juga merupakan salah satu jenis kue yang sering dibawa dalam serah-serahan pengantin pria. Dodol juga dibuat khusus seminggu sebelum Lebaran. Proses pembuatannya pertama-tama menumbuk

beras atau ketan, memarut kelapa untuk santan, membuat minyak kelapa dan membuat adonan dodo!l Sampai pada tahap menurunkan adonan ke kawa (penggorengan besar untuk ngeduk) dan menjadikan setengah encer masih ditangani oleh kaum perempuan. Jika adonan dodol sampai setengah encer atau sampai koleh, maka pekerjaan dilanjutkan oleh kaum laki-laki sampai dodol matang dan diangkat.

Tukang ngaduk dodol haruslah laki-laki yang memiliki fisik kuat, sebab membalik- balik dodol dengan pengaduk dodol (gelo) memerlukan tenaga yang besar. Tukang ngaduk harus mengerti seberapa tingkat kepanasan bara arang di bawah kawa. Jika tingkat kepanasan bara tidak konstan, artinya terlalu panas atau arang yang digunakan mengeluarkan asap, maka dodol yang dihasilkan bau sangit dan rasanya bercampur asap atau tidak rata matangnya bahkan menjadi hitam gosong mengeras bagai batu kali. Itulah sebabnya tukang ngaduk memperoleh bayaran yang cukup besar.