Djawa Hokoka

Himpunan Kebaktian Rakyat Jawa, merupakan organisasi massa yang dibentuk oleh pemerintah militer Jepang di Jawa pada tanggal 8 Januari 1944, sebagai pengganti Putera (pusat Tenaga Rakyat). Organisasi ini bertujuan mempersiapkan dan menggerakkan seluruh rakyat Jawa untuk kepemingan perang Jepang.

Organisasi ini langsung berada di bawah pengawasan Jepang, yaitu Gunseikan. Ir. Sukarno menjadi kepala Kantor Urusan Umum Hokokai dan sekaligus menjadi juru bieara utama yang mewakili rakyat Indonesia. Untuk jabatan dan tugas yang lebih keeil, ikut juga para pemimpin nasionalis lain, rmisalnya Ki Hadjar Dewantara yang menjadi ketua Hokokai untuk daerah Kesultanan Yogyakarta. Djawa Hokokai ini mempunyai cabang-cabang, mulai dari tingkat propinsi sampai ke organisasi pemerintah terkeeil di desa, yang disebut Tonarigumi (Rukun Tetangga). Sebagai organisasi rakyat, Djawa Hokokai adalah tempat berkumpulnya pernimpin-pernimpin rakyat dari tingkat pusat sampai tingkat desa.

Sebagai organisasi massa, badan ini bergerak dalam berbagai kegiatan seperti pengerahan harta dan hasil bumi untuk kepentingan perang Jepang, pemberantasan buta huruf dan penggalakan program gerakan hidup baru dengan aturan yang terdiri atas 33 pasal, misalnya disiplin, siap sedia· dan bersatu. Gerakan hidup baru, yang dipelopori oleh Sukarno dan Hatta ini dipropagandakan ke seluruh pelosok Jawa oleh para pemimpin, seperti Mr. Sartono. Dalam melaksanakan programnya Hokokai bekerja sarna dengan Pangreh Praja, Fujinkai (organisasi wanita zaman pendudukan Jepang), Masyumi, dan anggota Dewan Penasihat (Tjuo Sangi-in).

Dalam sidang Dewan Penasehat Pusat, Mei 1944, parapemimpin nasionalis meminta kepada Jepang untuk mendirikan korps pemuda yang disebut Barisan Pelopor. Barisan Pelopor ini kemudian didirikan pada bulan September 1944 di bawah Hokokai. Korps pemuda ini merupakan alat propaganda utama Hokokai, khususnya propaganda menyadarkan rakyat Indonesia akan kemerdekaan. Oleh sebab itu, slogan yang selalu ditanamkan oleh Barisan Pelopor ini berbunyi "merdeka atau mati." Pada akhir fase pertama, menurut laporan Djawa Baroe, anggota Hokokai lebih dari 1 juta.