Djamaluddin Malik

Pelopor industri film Indonesia, lahir di Padang, 13 Februari 1917 dan meninggal di Muenchen, 8 Juni 1970. Sebelum terjun dalam perfilman, Djamaluddin bekerja sebagai pegawai maskapai pelayaran Belanda (KPM), lalu sebagai pegawai sebuah perusahaan dagang di masa penjajahan Belanda. Ia mulai terjun di dunia pentas sandiwara di masa pendudukan Jepang. Bersama istrinya, mendirikan kelompok sandiwara Pantja Warna. Kelompok itu berkeliling, antara lain di Jakarta, Priangan, Surabaya, juga Kalimantan. Melalui kelompok sandiwara ini, ia menyisipkan tema kecintaan pada tanah air.

Dialah pendiri NVPersari (1951) sebagai perusahaan film pertama di Indonesia. Pada awalnya, ia pernah ikut berjuang semasa revolusi fisik, menjadi pekerja swasta, sebelum terjun dalam bidang perfilman. Ia mendirikan studio film kecil sangat sederhana dan film pertama yang dibuatnya di tahun 1950-an belum sepenuhnya berwarna dan proses pencuciannya pun masih harus dilakukan di luar negeri. Walau film Indonesia yang sepenuhnya berwarna secara resmi baru berhasil dibuat tahun 1968, namun sebenarnya Persari telah menghasilkan tiga buah film berwarna yaitu Rodrigo de Villa (1952), dengan bintang Raden Mochtar, Leilani (1953), dan Tabu (1953) yang seluruhnya dilaksanakan di Filipina. Bekerjasama dengan Sampguita (Filipina) tahun 1962 membikin film berwarna lagi yang karyawan maupun artisnya berasal dari Indonesia dan Filipina, dan diedarkan dengan menggunakan tiga bahasa: Indonesia, Tagalog dan Inggris. Melalui Persari, sedikitnya 59 judul film ceritera telah dihasilkannya. Ia juga termasuk tokoh perfilman Indonesia pertama yang menganjurkan agar film Indonesia diikutsertakan dalam festival internasional.

Walaupun film Indonesia kala itu dinilai belum memiliki potensi sedikit pun, Djamaluddin mendesak agar film Indonesia diikutsertakan dalam festival internasional dan terlaksana dalam sebuah festival film internasional di Tokyo, Jepang. Kepeloporannya yang lain adalah menyelenggarakan Festival Film Indonesia tahun 1955 yang untuk penyelenggaraannya, ia menggunakan uang pribadinya. Ia pula yang memprakarsai pendirian Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), organisasi para produsen film Indonesia. Film terakhir yang diproduksinya adalah Menyusuri Djejak Berdarah (1967). Sebagai penghargaan atas jasa dan integritasnya, sebuah penghargaan atas namanya diabadikan bagi dedikasi insan perfilman Indonesia.

Dalam bidang politik pun, ia memiliki peran dan pernah duduk sebagai Ketua III Pengurus Besar Partai Nahdatul Ulama. Sebagaimana halnya Usmar Ismail, ia juga pernah menjadi ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) yang bernaung di bawah bendera ND. Dari Pemerintah RI, ia menerima Bintang Mahaputra Adiprana dan tahun 1973 ia dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional.