Djaduk Djajakusuma

Sutradara film, teater, dan penulis. Lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah tahun 1918 dan meninggal pada 28 Oktober 1982. Menyelesaikan sekolah di tingkat AMS B setingkat SMA di Semarang, mendapat kesempatan belajar spesialisasi Jurusan Drama dan Film setahun di University of Washington, Seattle dan University of Southern California di Los Angeles dan 1957 belajar tentang drama di India. Mengawali karir sebagai penerjemah dan pemain drama pada Keimin Bunka Sidosho Jakarta tahun 1943. Pada saat menjabat sebagai Kapten TNI pada tahun 1946-1949, ia menjadi anggota kelompok drama amatir Maya pimpinan Usmar Ismail. Film pertamanya adalah Embun (1951), Harimau Tjampa (1954), dan Tjambuk Api (1958). Dia menjadi pendiri Wayang Orang Bharata tahun 1973 dan berjasa mengangkat Lenong, Ludruk, dan seni tradisional lainnya ke dalam kegiatan TIM. Pada tahun 1970 ia menerima penghargaan Anugerah Seni sebagai penulis skenario terbaik untuk film Harimau Tjampa.

Bersama Usmar Ismail dan kawan-kawannya ia mendirikan perkumpulan Sandiwara Amatir "Maya", membentuk Badan Perjuangan Seniman Merdeka di zaman Jepang. Tahun 1946- I950, ia beralih kegiatan di bidang jurnalistik sebagai wartawan di harian Patriot di Yogyakarta dan majalah Kebudayaan Nusantara. Tahun-tahun berikutnya, ia menjadi seorang guru dan pelatih pada koni Drama Atelir dan Yayasan Hiburan Mataram. Bersamaan dengan itu, jadi sutradara film di Perfini, diantaranya untuk film Dosa Tak Berampun, Trimalah Laguku, Taufan dan Badai, Putri dari Medan, Arai, Mak Comblang, Rimba Bergema, Lahirnya Gatot Kaca, Bukit Menoreh, Malin Kundang dan Cambuk Api. Dalam film Harimau Campa dan Bima Kroda mendapat Piala Citra sebagai Sutradara terbaik.

Tahun 1955 ia ikut mendirikan Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) dan Persatuan Karyawan Film dan TV (KFT). Tahun 1976 tercantum sebagai anggota Badan Penyantun Siaran TV dan Radio. Djaduk juga aktif dalam organisasi wayang dan menulis cerita wayang dalam majalah Zaman. Tanggal 24-28 Juni 1980 memunculkan sebuah naskah drama yang berjudul "Yu Tang Cun" di teater Arena Taman Ismail Marzuki oleh group Blantek Sibarkah.

Djaduk dapat dikatakan sebagai salah seorang sesepuh di bidang kebudayaan, terutama di bidang kesenian. Berbagai pekerjaan yang pernah ditekuninya di bidang budaya yaitu sebagai penerjemah dan pemain drama pada kantor Pusat Kebudayaan Jakarta, Direktur Perfini, Sutradara dan Penulis Skenario, dosen ATNI, wakil ketua IDKJ, dosen LPKJ, Juri FFI, Ketua Umum Federasi Teater Se-Indonesia dan jabatan terakhir yang pernah diembannya adalah pejabat Rektor LPKJ. Ia juga suka menulis cerita wayang dan dosen di Lembaga Kesenian Pusat Jakarta (LPKJ).