Dirgantara, Monumen

Disebut juga Patung Dirgantara merupakan perwujudan gagasan Soekarno di akhir pemerintahannya. Ia menghendaki dibuat patung "dirgantara", yang melambangkan manusia angkasa Indonesia yang digambarkan sebagai tokoh perkasa dan gagah berani menjelajah angkasa. Hanya karena ingin segera melihat patung itu berdiri dengan megah, biaya pembuatan patung dipikul sendiri dengan menjual mobil pribadinya dan mengawasi seeara langsung pekerjaan ini. Keinginan itu tidak dapat terwujud karena keburu meletus G30S/PKI. Bahkan timbul isyu, bahwa patung ini merupakan sebuah alat pencungkil mata dari orang-orang PKI dan Bung Karno menyangkalnya dengan keras dan agar didirikan sebagai jawabannya.

Monumen ini mulai dibuat pada tahun 1964-1965. Pembuatan patung ini merupakan peringatan tonggak sejarah penerbangan Indonesia, yang sudah dimulai sejak penjajahan Belanda. Namun sejak revolusi fisik tahun 1945 sudah ada yang bisa menerbangkan pesawat. Bahkan kita sudah bisa memproduksinya, bukan hanya sekedar pesawat niaga, pesawat militerpun dibuat. Monumen ini didirikan di bunderan Jl. Gatot Subroto (depan Markas Besar AURI). Tempat yang strategis merupakan pintu gerbang Jakarta Selatan dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Patung ini eukup tinggi sehingga dapat dilihat dari semua arah, memiliki arti filosofi sebagai lambang keberanian, kesatria dan kedirgantaraan dengan kejujuran, keberanian, dan semangat mengabdi.

Monumen ini dibuat oleh pematung Keluarga Area Yogyakarta atas rencana Edhi Sunarso dan arsitek Ir. Sutami. Bahan dasar yang digunakan perunggu setinggi 11 m, mencapai berat 11 ton, tinggi kaki (vootstuk) 27 m, memakan waktu selama setahun. Pengecoran patung berbahan perunggu ini dilakukan tim Artistik Dekoratif Yogyakarta dipimpin I. Gardono.