Dini, Nh

Sastrawan wanita Indonesia terpenting. Nama lengkapnya Nurhayati Srihardini, lahir di Semarang, 29 Februari 1936, sebagai anak kelima (bungsu) dari empat bersaudara. Ayahnya, Salyowijoyo, pegawai perusahaan kereta api, ibunya Aminah. Bakat menulisnya tampak sejak berusia sembilan tahun, saat menulis karangan berjudul Merdeka dan Merah Putih. Tulisan itu dianggap membahayakan Belanda sehingga ayahnya harus berurusan dengan Belanda. Namun, setelah mengetahui penulisnya anak-anak, Belanda mengalah. Pendidikan yang pernah ditempuh Sekolah Rakyat yang terputus-putus karena PD II dan perang kemerdekaan RI (1943-1950), SMP dan SMA Bag. A (Sastra) di Semarang, dan kursus GroundstewardessReserved Flight di Garuda Indonesian Airways Jakarta (1956). Sambil bekerja pada GIA di Bandara Kemayoran, mengikuti kursus pembentukan pengajar tingkat sekolah lanjutan (B-1) Jurusan Sejarah. Di samping itu, ia juga menambah pengetahuan di bidang lain, yaitu menari Jawa dan memainkan gamelan.

Berawal dari honor Rp 7,5 hasil prosa beriramanya yang dibacakan di sebuah radio, ia bertekad menjadi penulis. "Pendurhaka" adalah tulisannya yang pertama dimuat di majalah Kisah dan mendapat sorotan dari H.B. Jassin. Hasil karyanya yang berupa puisi dan cerpen dimuat dalam majalah Budaya dan Gadjah Mada di Yogyakarta (1952), majalah Mimbar Indonesia, dan lembar kebudayaan Siasat. Pada tahun 1955 ia memenangkan sayembara penulisan naskah sandiwara radio dalam Festival Sandiwara Radio di seluruh Jawa
Tengah. Ia juga bekerja di RRI Semarang, tapi tidak lama.Buku pertamanya, kumpulan cerpen Dua Dunia terbit 1956 saat ia masih SMA. Disusul novelet Hati Yang Damai (1961) dan berpuncak kepada sebuah novel yang fenomenal sebagai suatu kisah percintaan sekaligus perselingkuhan yang sangat mengesankan berjudul Pada Sebuah Kapal (1972).

Ketika bekerja di Jakarta sebagai pramugari GIA (1957-1960), dalam suatu penerbangan Dini bertemu dengan Yves Coffin, waktu itu Konsul Perancis di Kobe, Jepang. Mereka menikah tahun 1960, dikaruniai dua anak Marie Claire Lintang dan Pierre Louis Padang. Kehidupannya berpindah-pindah dari Kobe (Jepang), Pnom Penh (Kamboja), kembali ke Paris (Perancis). Tahun 1968 bertugas di Manila (Philipina), kembali sejenak ke Paris, dan mulai tahun 1976 pindah ke Detroit (Michigan, AS) tempat Coffin menjabat sebagai konsul jenderal. Tahun 1984 memutuskan bercerai dari suaminya, setahun kemudian bernaturalisai menjadi WNI kembali dan menetap di rumah warisan orang tuanya di kampung Sekayu II/348. Pada tahun 1986, Nh. Dini juga mendirikan Pondok Baca "Nh. Dini", sebuah taman bacaan untuk anak-anak yang terus berkembang dan mempunyai cabang di berbagai daerah.

Sebagai sastrawan ia termasuk pengarang yang produktif, di antara beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Keberangkatan ( 1977), dan Sebuah Lorong di Kotaku (1978). Pertemuan Dua Hati termasuk karyanya di tahun 1986, kemudian terjemahan Sampar (dari karya Albert Camus La Pest), Tirai Menurun (1993), Panggilan Dharma Seorang Bhikku (1996), Tanah Baru, Tanah Air kedua (versi baru dari 'Orang-orang Trans', 1997). Beberapa penghargaan yang diterima Nh. Dini, berturut-turut pada tahun 1988 memenangkan hadiah pertama lomba penulisan cerpendalam bahasa Perancis se-Indonesia yang diselenggarakan surat kabar Le Monde, Kedutaan Prancis di Jakarta, Radio France
Internationale, dengan cerpen berjudul Le Nid de Poisson dans la Baie de Jakarta (Sarang Ikan di Teluk Jakarta). Tahun 1991, menerima penghargaan Bhakti Upapradana (Bidang Sastra) dari Pemerintah Daerah Jawa Tengah, dan berkeliling Australia untuk memberikan ceramah di berbagai universitas atas biaya Australia-Indonesia Institute. Tahun 1998, Nh. Dini diundang Pemerintah Kota Toronto untuk membaca karya sastra bersama pengarang-penyair-dramawan dari Jepang, Korea, Filipina, dan Thailand di sebuah yayasan kebudayaan yang dikelola oleh kota tersebut.