Depok, Gereja Kristen

Gereja yang terletak daerah Depok Lama. Sejarahnya bermula saat Anggota Dewan Hindia, Comelis Chastelein (1714) dari keluarga Hugenot Perancis, membeli tanah luas di sekitar Lapangan Ban-teng, tempat ia membangun rumah, yang diberi nama Weltevreden (pada tahun 1670-an). Ia mengirim sebuah kapal ke Bali untuk membeli dan mengangkut budak guna mengurus sawahnya. Maka, sampai tahun 1815 Pasar Bam kadang-kadang disebut 'Kampung Bali'. Setelah ChasteIein mengundurkan diri dari jabatannya, ia membeli tanah di Srengseng, Lenteng Agung dan Pancoran Mas. Waktu itu, daerah yang terletak di sebelah selatan Batavia, masih kosong.

Pada tahun 1714 Chastelein menghibahkan tanah Depok kepada dua belas keluarga atau fam yang berjumlah kurang lebih 120 orang bekas budaknya dari Bali yang beragama Kristen. Salah seorang di antara mereka ditugaskan untuk memberi pelajaran agama kepada anak-anak dan memimpin ibadat sederhana. Pemimpin pertama ialah Baprima van Bali yang diangkat oleh Chastelein sendiri.

Orang Depok sering berjalan kaki selama enam jam ke Gambir untuk mengikuti ibadat dalam bahasa Melayu. Gereja pertama dari gedek (1700) diganti dengan gedung dari batu (1792), yang hancur akibat gernpa bumi (1834). Gereja permanen didirikan pada tahun 1854 dan baru saja dipugar dan diperluas. Baru pada tahun 1818, Umat Depok (bersama dengan Tugu) memperoleh seorang proponant atau calon pendeta tetap. Seorang bapak asli Depok berperan sebagai penginjil.

Pada tahun 1924 umat Kristen Depok terdiri dari 246 kepala keluarga dengan jumJah kurang lebih sembilan ribu orang. Setelah Perang Dunia II orang Kristen di Depok sering dirampok oleh orang dari desa-desa di sekitarnya. Pada tahun 1951 tanah partikelir Depok dibubarkan dan para pemilik diberi sedikit uang dan beberapa gedung seperti sekolah, gereja serta lapangan. Empat tahun kemudian jemaat Depok bergabung dan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (1955). lnilah jemaat Kristen pertama di Batavia yang terdiri dari orang pribumi saja.