Daoed Joesoef

Budayawan dan pendidik, lahir di Medan, Sumatra Utara, 8 Agustus 1926. Kedua orang tuanya berasal dari Jeron Beteng, Yogyakarta. Di kota kelahirannya ia mengumpulkan uang saku sebagai caddie. Semasa revolusi ia anggota Divisi IV Sumatra Timur, kemudian pindah ke Yogyakarta untuk sekolah menengah atasnya. Di kota ini ia menjadi anggota Tentara Pelajar Batalion 300. Di kota ini juga bakat melukisnya tersalurkan. Ia yang gemar melukis sketsa, antara lain bergaul dengan Nasjah Djamin, Affandi, dan Tino Sidin. Ia bahkan diangkat menjadi ketua Seniman Indonesia Cabang Yogya, yang berpusat di Solo dan diketuai S. Sudjojono.

Ketika masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ia mengkritik suatu kebijaksanaan Wakil Presiden Hatta melalui surat kabar Indonesia Raya. Akibatnya, ia diminta datang ke kantor Wakil Presiden untuk berdiskusi dengan Hatta. Setelah menyandang gelar sarjana ekonomi dari UI (1959), ia meneruskan studinya ke Perancis dan meraih gelar doktor Ilmu Keuangan Internasional dan Hubungan Internasional (1967) serta Ilmu Ekonomi (1973). Dalam pemerintahan, ia diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Pembangunan III (1978-1983). Setelah itu ia diangkat menjadi anggota DPA RI. Kegiatannya sehari-hari selain dosen FE UI, ketua kehormatan Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Penanggulangan Lembaga Javanologi di Yogyakarta, dan Ketua Dewan Direktur Central Strategic for International Studies (CSIS) sejak 1983.

Ia kerap menghadiri berbagai konferensi internasional yang diselenggarakan UNESCO sebagai penasihat delegasi tetap Indonesia di Paris. Setelah dua tahun menjadi staf ahIi Menteri P & K, ia diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dan secara rutin melakukan penelitian baik di dalam maupun di luar negeri. Ia menulis buku Artis dan Masyarakat (Pujangga Baru, 1949), Internalional Monelary Problems (CSIS, 1971), The Shift of International Politics towards Asia (CSIS, 1971), dan The Significance of Nixon's Visit to Communist China (CSIS, 1972). Selain itu ia menulis artikel untuk sejumlah penerbitan, seperti Sinar Harapan, Mutiara, dan Famili.