Dangdut

Jenis musik bernuansa Timur yang mendapatkan nama baru sesudah tahun 1970, sejak menggunakan peralatan-peralatan serupa musik jazz/Barat yang berkembang pesat sesudah Perang Dunia II, berupa amplifier, gitar listrik, organ listrik. Ditampilkan tak beda dengan gaya bermusik yang hampir sejajar dengan gaya-gaya musik rock, yang ada di Barat dan dikombinasikan dengan.gaya tari-tari populer dalam film-film India. Namun dasar musikal dan vokal yang dinamakan dangdut tetap musik "Melayu Betawi" yang berbeda dengan musik Melayu yang biasa terdapat di Sumatera Utara, Riau atau yang berkembang secara tradisional dalam kraton-kraton Melayu di Malaysia.

Kata "dangdut" sesungguhnya merupakan suatu unamatopae dari bunyi gendang yang khas dalam musik tradisional India, seperti yang banyak didengar dalam film-film mereka. Gaya memainkan gendang jenis tabla dengan sifat penyuaraan yang unik seperti "flageolet" karena urat ujung ibu jari pada membran yang meng-hasilkan bunyi nnduuuut, ndut, itulah akhirnya yang dilekatkan pada seluruh musik serta orkes yang memainkan peralatannya mengirnitasi efek bunyi tersebut. Kemungkinan efek bunyi yang menyendut lancip dan menyolek itu, memberikan efek psikologis, mempertinggi pesona erotik pada wanita-wanita penari dalam film India di samping mengasyikkan bagi irama musik itu sendiri. Pada sekitar tahun 1970-1980, musik dangdut bahkan mengambil alih lagu-lagu film India dengan kata-kata Indonesia seperti dari film: Main Cup Rahuligi, Laila Majnun, Zindagi Aur Maut, dan lain-lainnya, yang biasanya dinyanyikan oleh vokalis terkenal seperti Lata Mangeshkar, Asha Bonsle, Mohammad Rafi.

Selanjutnya genre musik dangdut berkembang secara luas dipadukan dengan irama musik yang berbeda-beda, baik itu disko, rock, house music, keroncong, mengikuti trend musik yang terjadi pada saat itu. Di Indonesia, terdapat beberapa generasi yang berbeda dari penyanyi yang mengusung musik dangdut. Diawali Ellya Khadam pada tahun 1950-an, A. Rafiq, Oma Irama, Rita Sugiarto, dan Elvie Sukaesih pada tahun 1970-an. Pada generasi 1980-an, memunculkan nama Mansyur S, Meggi Z, lis Dahlia, Evi Tamala, Ike Nurjanah, dan lain-lain. Sedang dalam dekade terakhir, dangdut mempertahankan kepopulerannya dengan menampilkan koreografi panggung yang cenderung makin erotis, antara lain diwakili oleh generasi Inul Daratista, Uut Permatasari dan Annisa Bahar, dengan bergagai tipikal jenis goyangannya.