Danarto

Lahir di Mojowetan, Sragen (Jawa Tengah) pada 27 Juni 1940, dari Siti Aminah, seorang pedagang eceran di pasar kabupaten, dengan Djakio Hardjosoewarno, seorang buruh pabrik gula Modjo. Lulusan ASRI Yogyakarta (1961) ini pernah aktif di Sanggar Bambu Yogyakarta, kemudian ikut mendirikan Sanggar Bambu Jakarta. Menikah dengan Siti Zainab Luzfiati, seorang psikolog. Menulis dan melukis berjalan secara bersamaan sejak Danarto remaja. Melukis sejak kecil, sebelum sekolah taman kanak-kanak, dengan kapur dan arang yang memenuhi lantai dan dinding rumahnya. Menulis cerpen sejak usia 17 tahun.

Sebagai sastrawan dan pelukis, Danarto, mendasari kerjanya pada tataran: realitas yang tampak dan realitas yang tak tampak, jalin-menjalin menjadi satu bagai alam dunia dengan alam akhirat. Kedua aJam itu tidak bisa dipisahkan karena memang batasnya hanya setipis angin. Menurut ia, dengan hidup di dunia ini, kita sudah menjelajah di tiga alam: alam roh, alam rahim dan alam dunia. Masih satu alam lagi yang perjalanannya sedang kita tempuh: alam akhirat. Baginya hidup di dunia ini mistis.

Setelah empat buku kumpulan cerpennya, Godlob (1975: 9 cerpen), Adam Ma'rifat (1982: 6 cerpen), Berhala (1987: 13 cerpen) dan Gergasi(1996: 13 cerpen), ia menerbitkan buku kelimanya, Setangkai Melati di Sayap Jibril (2000) yang berisi 28 Cerpen. Cerpen-cerpennya sudah diterjemahkan ke pelbagai bahasa asing, diantaranya Abracadabra (terjemahan bahasa Inggris dari Godlob) oleh Harry Aveling. Menurut Burton Raffel kualitas cerpen-cerpen Danarto melebihi cerpen-cerpen terbaik yang ada di Eropa maupun di Amerika dewasa ini.

Berbagai hadiah didapatnya, semisal: Hadiah Buku Dtama maupun Hadiah Pusat Bahasa. Pada 1988, ia mendapat Hadiah SEA Writes dari Pemerintah Thailand. Pernah mengikuti lokakarya penulisan "boleh menulis apa saja atau tidak menulis apa-apa" dl Iowa City, Amerika Serikat, pada 1976. Ia memperoleh professional fellowships dari The Japan Foundation untuk menulis novel pada 1990-1991 di Kyoto sampai munculnya Asmaraloka, yang ia tulis secara spontan di Harian Republika, sejak 23 April 1993. Penyair dan kritikus Sapardi Djokodamono menyatakan, jika James Joyce membutuhkan waktu 17 tahun untuk melakukan pembaharuan sastra lewat novelnya Finnegan's Wake, sementara Danarto untuk hal yang sama hanya membutuhkan waktu 60 hari lewat novelnya Asmaraloka itu.

Ia juga menulis sandiwara dan menyutradarainya, semisal lakon Bel Ceduwel Beh (1978), Mengembalikan Kegembiraan Berpolitik (1996) dan Waktu yang Alpa (1998). Ia mulai intens menulis puisi sejak 1992 ketika terjadi pemusnahan etnis di Bosnia Herzegovina. Sepak terjangnya dalam seni rupa dirintisnya dalam sejumlah pameran seni instalasi sejak 1962 dan memamerkan Kanvas Kosong pada 1973, yang menyatukan seni lukis, seni arsitektur dan seni patung. Gambar ilustrasi untuk cerita wayang purwanya di Majalah Zaman dianggap Seno G. Ajidarma menjadi ikon dalam khasanah seni rupa Indonesia.

Dikenal pula sebagai art-directori untuk sejumlah film layar lebar, di antaranya Slid Sang Primadona, karya Arifin C. Noel. Sedang sebagai art-director teater, Danarto mendukung karya Sardono W. Kusumo berkeliling ke Eropa Barat dan Selatan serta di Teheran, Iran, memainkan Dongeng dari Dirah tahun 1974. Juga menulis esai, yaitu Cahaya Rasul dan Begitu ya Begitu tapi Mbok Jangan Begitu. Buku pertama mencoba menafsirkan hadis, sedang buku kedua mencoba menafsirkan politik. Sedang catatan hariannya ketika menunaikan ibadah haji pada 1983 dibukukan dengan judul Orang Jowa Naik Haji.