Damsyik, Him

Pedansa dan pemain film atau sinetron, lahir di Teluk Betung, Lampung, 14 Maret 1929. Namanya mulai dikenal masyarakat berkat perannya sebagai Datuk Maringgih dalam film Siti Nurbaya. Sebelumnya ia lebih dikenal sebagai pedansa, sejak tahun tahun 1950-an, walau pernah dicap sebagai produk gaya hidup imperialis oleh PKI. Ia salah satu diantara sedikit instruktur dansa profesional berlisensi internasioal lulusan Negeri Belanda. Keterampilannya berdansa berkelas dunia pemah dia tampilkan pada kesempatan kejuaraan Jakarta Open Dance Sport 2003 di The Grand Ballroom Hotel Mulia, Jakarta, 28 Maret 2003. Damsyik unjuk kebolehan bersama 122 pasang pedansa internasional dari berbagai penjuru dunia.

Sejak masa kecil Damsyik sudah banyak menghabiskan waktu dengan menari. Namun ia sendiri mengaku tidak tahu dari mana bakat menari itu berasal, sebab ayahnya yang bekerja sebagai kepala pegawai di perusahaan pelayaran Belanda, KPM, tidak pandai berdansa. Ketika hendak meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi, ia hijrah ke Jakarta dan sambil kuliah terus bersentuhan dengan dunia dansa. Pada tahun 1950-an di Jakarta masih banyak bermukim orang Belanda sehingga budaya dansa-dansi masih dominan sebagai alat pergaulan, termasuk di kalangan mahasiswa. Dalam salah satu kejuaraan, ia berhasil menyabet Juara I Lomba Dansa Ballroom di Jakarta. Sejak itu, ia menekuni dansa secara profesional dan pergi belajar ke negeri dansa selama empat tahun di Rellum Dancing School, Belanda. Dan hasilnya, ia jadi salah satu instruktur dansa berijazah internasional yang dimiliki Indonesia.