Cuke

Pajak yang dibebankan kepada petani di Batavia yang menyewa tanah partikelir. Pajak ini ditentukan setiap sepuluh tahun sekali oleh tuan tanah dan kepala kampung. Hal ini berkait erat dengan sejarah orang-orang kaya yang memiliki rumah besar di tengah perkebunan mereka. Petani yang menetap di atas tanah yang diberikan atau dibeli itu, boleh menanam padi, pohon buah-buahan, memelihara ikan, dan lain-lain. Tetapi harus membayar cuke, yang besarnya duapuluh persen hasil tanah garapan mereka. Selain itu mereka diharuskan melakukan kerja rodi (heerendiensten) .

Tuan-tuan tanah yang memiliki kuasa, dengan mudah memeras rakyat. Maka, para opas, centeng dan jagoan yang dibayar tuan tanah dibenci oleh rakyat yang dibebani terlampau berat. Apalagi bila tukang pukul itu bertingkah laku kasar dan suka memeras untuk memperkaya diri. Bila beban terlalu tinggi, orang membangkang atau mendukung jago-jago yang berani melawan. Maka, banyak terdapat cerita tentang 'jago Betawi', yang berani melawan tuan tanah dan centeng mereka.