Cornelis Chastelein

Seorang anggota Dewan Hindia tahun 1693, salah seorang pemilik tanah Paviljoen. Ia membeli banyak budak dari raja-raja Bali untuk membuka persawahan, karena orang Bali dikenal paling mahir dalam bercocok padi. Dari dua orang gadis budak Bali yang diperistrinya, Chastelein mendapat dua orang puteri yang kemudian menjadi ahli waris tanahnya yang sangat luas.

Chastelein yang bernama lengkap Cornelis Chastelein dianggap sebagai orang beradab menurut ukuran zamannya. Hal ini terlihat dari perbaikan-perbaikan yang diuraikan dalam bukunya Invallende Gedagten ende aanmerkingen over colonien - 'beberapa pikiran dan catatan yang muncul dalam benak (ku) mengenai negeri jajahan'. Ini merupakan semacam pernyataan etis awal, yang ia tulis pada tahun 1705 untuk menentang kebijakan VOC, yang bersemangat kruidenier, yakni 'pemilik toko yang sangat pelit'.

Chastelein yang meninggal tahun 1714 termasuk orang pertama di Indonesia yang berusaha mengembangkan perkebunan kopi. Di tengah-tengah kota, yakni di pusat Jakarta, penanaman kopi dicoba untuk pertama kalinya. Rumah peristirahatan kecil, yang terletak di tanah yang kini dipakai oleh Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, dinamainya Weltevreden atau 'Benar-benar puas'. Nama ini kemudian diberikan kepada hampir seluruh daerah Jakarta Pusat sekarang sampai masa pendudukan Jepang (1942).