Conrad Theodor Van Deventer, Mr.

Penggagas politik etis, lahir di Kota Dordrecht, Nederland, 29 September 1857. Ayahnya adalah Direktur Sekolah Menengah (HBS) di Dordrechat, tempat ia juga menamatkan sekolah pada tahun 1875. Pada tahun itu juga van Deventer menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Leiden. Pada tahun 1879 ia memperoleh gelar doktor ilmu hukum dengan disertasinya yang membahas tentang posisi hukum koloni-koloni menurut konstitusi Belanda.

Berbekal latar belakang pendidikan yang cukup, pada 1880, van Deventer lulus groot-ambtenaars examen (ujian pejabat tinggi kolonial) dan berangkat ke Hindia Belanda. la bekerja sebagai hakim sampai tahun 1885 dan menjadi pengacara di Semarang sampai 1897. Kasus penjualan candu ilegal dan perkara warisan orang Cina kaya, memberinya pendapatan dalam jumlah yang lumayan. Menurut sejarawan Fasseur, hal itu juga mungkin memberikannya rasa bersalah. Pada tahun 1897 ia kembali ke negeri Belanda.

Pengalaman di Hindia Belanda mendorongnya menulis artikel di majalah de Gids (1899) yang berisi tentang mengapa dan apa politik etis. Ia menawarkan tiga jalan untuk menaikkan tingkat kemakmuran rakyat; yakni edukasi, emigrasi (transmigrasi) untuk mengurangi jumlah penduduk Jawa, dan perluasan irigasi untuk menambah kesuburan sawah serta menaikkan produksi pangan. Meski tulisan van Deventer agak membosankan, tapi masyarakat cepat tanggap dan menerima ide pragmatis dan non-ideologis tersebut, apalagi momentumnya bertepatan dengan datangnya abad baru dan ratu baru. Gagasan van Deventer diterima dan diresmikan oleh Sri Ratu.

Politik etis terus berjalan walau muncul kritik di sana sini. Sebagai langkah awal, dibentuklah Komisi Minderewelvaart untuk rakyat Jawa dan Madura. Pada tabun 1904 Conrad Th. Van Deventer diangkat menjadi Ketua Komisi Kemiskinan tersebut dan ditugaskan meneliti kemiskinan di Jawa dan Madura.

Akhirnya konsep koloni eksploitasi pun dihentikan. Tahun 1905, utang pemerintah Hindia Belanda sebesar 40 juta gulden dinyatakan sebagai utang kerajaan dengan ketentuan dalam tahun-tahun berikutnya, uang itu akan dibayarkan dalam bentuk usaha-usaha untuk kemakmuran rakyat pribumi.

Tahun 1902, van Deventer diangkat menjadi anggota redaksi majalah de Gids. Kumpulan artikelnya sebanyak tiga jilid tebal diterbitkan di Amsterdam pada 1916. Pada 1905-1909, van Deventer menjadi anggota Tweede Kamer (parlemen) dan selanjutnya menjadi Eerste Kamer (Senat) Belanda. Pada tahun 1913, ia kembali dipilih menjadi anggota Tweede Kamer. Ia tetap memprogandakan arti penting perluasan pendidikan kepada anak-anak Jawa, pembangunan irigasi, dan penyelenggaraan transmigrasi dari Jawa ke Sumatera yang disebut Pulau Harapan.

Van Deventer mengagumi Thomas Stamford Raffles, gubernur jenderal Inggris di Jawa (1812-1816) yang menciptakan pajak tanah dan penulis History of Java; van der Capellen (1825-1830) yang terkenal sebagai pembela rakyat kecil; dan Fransenn van der Putte, menteri koloni (1870) yang menghapus sistem tanam paksa dan melakukan swastanisasi perkebunan di tanah kolonial. Meski berjasa besar bagi Indonesia, toh ia bukan orang radikal yang menentang kolonialisme. Ia merestui berlanjutnya perang Aceh sampai titik darah penghabisan. Van Deventer tidak pernah menghendaki pemutusan hubungan antara kolonial dan kesatuan wilayah kerajaan.