Citrap, Rumah

Sejarah daerah ini dimulai dengan diberikannya hak kepada ningrat-ningrat yang berasal dan Banten yang berperan di Jatinegara dan pernah menjadi tuan tanah di Citrap (kini Citeureup), yakni Pangeran Purbaya, Aria Surawinta dan Raden Sakee, yang menjual tanah itu 1756 kepada JA van Hohendorfff. Hal ini dibuktikan dengan masih ditemukan kuburan mereka hingga tahun 1982. Mereka bertiga adalah kerabat dekat Sultan Tirtayasa (1651-1682).

Citrap juga terkenal dengan sarang burung yang terdapat di karang-karang terjal dekat Kalapanunggal, tidak jauh dari sana. Pada tahun 1778, Jonathan Michielz, anak Agustijn Michiels tuan tanah terkaya yang pernah hidup di Batavia, membeli daerah itu. Sarang burung pada karang itu memberinya keuntungan besar karena sangat diminati orang Cina kaya di Batavia sebagai masakan lezat.

Rumah Citrap, merupakan salah satu trend pada akhir abad ke-18 dimana terdapat banyak perkebunan dengan rumah-rumah besar dibangun sebagai rumah peristirahatan yang letaknya berada agak jauh di luar Batavia. Beberapa di antaranya menjadi pusat riset bagi tanaman baru atau penyesuaian binatang, yang didatangkan dari luar negeri pada iklim tropis. Setelah sekian waktu dan masa jayanya berlalu, pada abad berikutnya banyak perkebunan itu dijual, karena menjadi terlalu mahal untuk dipelihara. Beberapa perusahaan besar, orang Cina dan Arab lah yang membeli perkebunan-perkebunan itu, namun membiarkan banyak rumah terbengkalai. Termasuk rumah Citrap.