Cirebon, Babad

Karya sastra sejarah yang disusun pada pertengahan abad ke-19 di Cirebon, menceritakan perkembangan Kesultanan Cirebon sejak awal hingga masa penjajahan Inggris di Pulau Jawa. Bagian terbesar ceritanya mengisahkan tokoh Sunan Gunung Jati sebagai penyebar agama Islam di Jawa Barat dan pendiri Kesultanan Cirebon. Ditulis dalam huruf Arab dan menggunakan bahasa Jawa-Cirebon serta disajikan dalam bentuk wawacan. Babad yang telah disalin berulang kali di berbagai tempat ini naskahnya kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta, Universitas Bibliotheek Leiden, British Museum London, Museum Sri Baduga Bandung dan perseorangan di Jawa Barat.

Studi atas Babad Cirebon telah dilakukan oleh I.L.A. Brandes dan R.A. Kern, tetapi terbatas pada alih aksara dan edisi teks berdasarkan dua naskah yang kini disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta dengan pengantar studi serta ringkasan isi dalam bahasa Belanda. Keseluruhan isi Babad Cirebon ini, disebut sebagai edisi Brandes, dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu: 1) Cerita tentang tokoh Sunan Gunung Jati; 2) Cerita tentang Walisanga dalam penyebaran agama Islam; 3) Cerita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hubungan antar Kesultanan (Demak, Cirebon, Banten, Pajang dan Mataram serta Kompeni Belanda); 4) Silsilah sultan-sultan Panembahan, Kanoman, Kasepuhan, Kacirebonan di Cirebon serta sultan-sultan Banten, Demak, Pajang, Mataram dan Kartasura.

Babad Cirebon edisi Brandes menggunakan sepuluh jenis pupuh, yaitu Dandanggula, Sinom, Asmarandana, Pangkur, Mijil, Durma, Pucung, Magatru dan Ladrang. Menggunakan tiga macam bentuk penuturan, yaitu kisahan, monolog dan dialog. Jalan ceritanya berpola selang-seling, artinya satu pokok cerita diselingi oleh pokok-pokok cerita lain, dan semua pokok cerita diakhiri pada bagian akhir. Selanjutnya hasil edisi teks itu dianalisis dengan menggunakan pendekatan ilmu sastra dan isinya ditinjau secara historis oleh Edi S. Ekajati (1977, 1978). Studi ini mengambil kesimpulan bahwa Babad Cirebon edisi Brandes dimaksudkan pengarangnya pertama-tama bukan untuk mengungkapkan kenyataan historis atau kejadian sebenarnya, melainkan mensahkan: 1) Sunan Gunung Jati sebagai penyebar agama dan penegak kekuasaan Islam di tanah Sunda; 2) Walisanga sebagai penyebar agama dan penegak kekuasaan Islam di Pulau Jawa; 3) Orang Belanda sebagai penguasa di Pulau Jawa dan Batavia sebagai tempat kedudukannya. Secara tradisional Babad Cirebon oleh orang-orang Cirebon dianggap sebagai sejarah resmi mereka.