CIPTA LOKA CARACA, YAYASAN

Sebuah lembaga nirlaba yang didirikan tahun 1970 hasil dari Nasional Kongregasi Maria (1963). Pada mulanya bernama Christian Life Communities (CLC), kemudian berganti nama Cipta Loka Caraka pada 1967, sehingga tidak merubah singkatannya. Yayasan ini terletak di Jl. Mohamad Yamin 37, Menteng, Jakarta Selatan dan dipimpin oleh Romo Adolf Heuken, SJ. Staf lembaga ini mengarang, menerjemahkan, menerbitkan dan menyebarluaskan brosur dan buku-buku yang menyajikan informasi tentang Gereja dan ajarannya, bahan untuk pembinaan iman serta kerasulan awam bagi umat Katolik. Walaupun sasaran utamanya adalah umat Katolik terpelajar di seluruh Indonesia, bahan terbitan CLC banyak digunakan golongan lain. 'Book Club'-nya yang beranggotakan ratusan orang di seluruh Nusantara memungkinkan CLC menerbitkan buku-buku yang bermutu dengan harga murah, yang tersebar ke seluruh tanah air.

Lembaga ini dianggap sebagai lembaga swasta-independen yang paling banyak menyumbang penulisan dan penerbitan buku tentang situs-situs bersejarah yang terdapat di kota Jakarta. Beberapa buku penting yang telah diterbitkan dan sebagian besar dikarang A. Heuken, yaitu: Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta (1997), Gereja-Gereja Tua di Jakarta (2003), Mesjid-Mesjid Tua di Jakarta (2003) The Earliest Portuguese Sources jor History of Jakarta (2002), Sumber-Sumber Asli Sejarah Jakarta Jilid 1-3 (2001), Buku yang dikarang Heuken dan Grace Pamungkas, Menteng: Kota Taman Pertama di Indonesia (2001) dan Galangan Kapal Batavia Selama Tigaratus Tahun (2000). Beberapa buku lain yang penting adalah Klenteng-Klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta karya Claude Salmon dan Dennis Lombard (2003).

Sumbangan lain lembaga ini adalah membuat Peta CLC yang dibuat berdasarkan peta Dasar Dinas Pemetaan dan Pengukuran Tanah DKI tahun 1996/1997 untuk memperlihatkan perubahan selama tahun 90-an. Seperti, perusakan gedung-gedung bersejarah akibat pembangunan jalan tol Tanjung Priok Cengkareng yang sebenarnya tidak perlu dan jalan baru di tepi barat pinggir Kali Besar yang juga memotong gedung bersejarah (Ankerwerf).