Cina, Makam

Persoalan sering timbul bagi pemerintahan Kompeni ialah kebiasaan orang-orang Cina, terkait kultur orang-orang Cina yang sangat menghormati arwah-arwah leluhur mereka sehingga upacara pemakaman dilaksanakan dengan melebihi batas kemampuan mereka. Hal ini terlihat dalam bentuk makam yang besar dengan beton dan atap yang bagus. Sebagai bekal kubur, disertakan perhiasan, pakaian, dan lain-lain.

Perkampungan Cina selalu dikelilingi oleh kuburan leluhur mereka, sehingga jika ada usaha pelebaran kampung selalu timbul permasalahan. Juga menjadi tradisi mereka ialah mendirikan makam di atas sebuah bukit yang mengakibatkan tanah di sekelilingnya harus dikeruk untuk membuat sebuah bukit. Hal ini menimbulkan permasalahan karena tanah-tanah bekas urugan tersebut berlubang-lubang dan pada musim hujan digenangi air, akibatnya menjadi tempatv sarang nyamuk. Keadaan semacam ini mendapat perhatian dari Gubernur Jenderal JP Coen, yang memerintahkan agar kuburan orang Cina dibuat di luar kota yaitu di daerah Mangga Dua (Jl. Pangeran Jayakarta). Kapten Cina yang pertama bernama Bencon dimakamkan di sini.

Orang Cina sendiri pernah membeli beberapa tanah untuk dijadikan kuburan. Seperti di sebelah barat dan timur Kali Besar (1696) dan tanah di Kemayoran (1745). Bahkan Gubernur Jenderal Jacob Mossel memberikan kebun milik Pieter van Horrn untuk dijadikan makam. Sejak itu daerah tersebut dikenal sebagai Sienthiong (Kuburan Baru).